TEHERAN — Iran dinilai memiliki posisi tawar yang sangat kuat terhadap jalur energi dunia, bukan hanya karena kemampuan militernya, tetapi juga karena faktor geografis. Selat Hormuz—jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar 20 persen minyak dunia—berada di kawasan yang memungkinkan Teheran memengaruhi arus perdagangan energi global.
Setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan menyusut drastis. Kondisi itu terjadi seiring penutupan Selat Hormuz oleh Teheran.
Iran disebut memanfaatkan karakter Selat Hormuz yang sempit dan strategis untuk membangun sistem pertahanan yang sulit ditembus. Salah satu elemen utamanya adalah penguasaan atas 19 pulau kecil di sepanjang selat tersebut, yang digunakan sebagai “benteng alami” guna mengunci pergerakan kapal-kapal internasional.
Menurut laporan Wall Street Journal, Iran menempatkan pulau-pulau itu dalam sebuah konsep pertahanan yang secara resmi disebut sebagai “kapal induk”. Di pulau-pulau tersebut, Iran membangun infrastruktur militer permanen, mulai dari sistem radar, landasan pacu, depot bahan bakar, hingga gudang rudal.
Direktur Jerusalem Institute for Strategy and Security, Yossi Kuperwasser, menyatakan geografi Selat Hormuz yang sempit membuat kapal-kapal tanker berukuran besar harus mengikuti rute tertentu. Rute itu, menurutnya, melewati pulau-pulau yang berada di bawah kendali Iran.
Dua pulau yang disebut menjadi pilar dalam strategi ini adalah Pulau Larak dan Pulau Qeshm. Larak digambarkan tampak seperti gurun gersang, namun disebut berfungsi sebagai pusat intelijen. Pulau ini menampung sistem gangguan komunikasi satelit buatan Rusia, yang dijaga pasukan elit dan kapal cepat rudal. Peneliti Foundation for Defense of Democracies, Max Meizlish, menyebut Larak sebagai tulang punggung operasional koridor untuk memantau lalu lintas kapal.
Sementara itu, Pulau Qeshm—yang merupakan pulau terbesar—disebut berperan sebagai pangkalan militer besar dengan rudal yang disimpan di terowongan bawah tanah. Posisinya juga membuat kapal tanker harus melintas sangat dekat dengan pesisir Iran untuk menuju laut lepas.
Selain Larak dan Qeshm, Iran juga memanfaatkan Pulau Greater Tunb dan Lesser Tunb. Kedua pulau kecil ini digambarkan sebagai “mata” Iran karena letaknya dekat dengan jalur pelayaran utama yang lebarnya sekitar 3 kilometer. Dengan benteng militer di sana, Iran dapat memantau kapal dari jarak dekat, mengingat tanker harus melewati dua saluran dalam yang mengapit pulau-pulau tersebut.
Dengan kendali geografis itu, Iran disebut menerapkan penyaringan ketat terhadap kapal yang melintas. Kapal tanker yang ingin melintasi selat dikabarkan harus melalui perantara untuk memperoleh izin dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). “Ini bukan cara pergerakan kapal sebelum perang, dan ini merupakan perkembangan yang sangat mengganggu dalam hal kendali Iran atas lalu lintas melalui Selat tersebut,” kata Tomer Raanan, analis risiko maritim di Lloyd’s List Intelligence.
Raanan juga menyebut, dalam sejumlah kasus, operator kapal harus membayar biaya transit hingga 2 juta dollar AS dalam mata uang yuan China untuk melewati “gerbang” yang dijaga pulau-pulau tersebut.
Upaya membuka kembali jalur internasional di Selat Hormuz diperkirakan berisiko memicu pertempuran besar. Kehadiran kapal serbu amfibi USS Tripoli yang membawa Marinir AS ke-31 disebut menunjukkan bahwa salah satu cara untuk mematahkan kendali Iran adalah merebut pulau-pulau benteng itu satu per satu melalui serangan amfibi—sebuah operasi yang dinilai sangat berisiko tinggi.

