BERITA TERKINI
Ramalan 2026 Kembali Ramai, Paranormal Singgung Potensi Gejolak Sosial, Krisis Listrik, dan Ancaman People Power

Ramalan 2026 Kembali Ramai, Paranormal Singgung Potensi Gejolak Sosial, Krisis Listrik, dan Ancaman People Power

JAKARTA — Perbincangan soal ramalan tahun 2026 kembali mengemuka setelah seorang paranormal dalam kanal YouTube Ramalnia menyampaikan prediksi bahwa Indonesia berpotensi memasuki fase “guncangan” yang disebutnya berlangsung hingga 2029–2030. Dalam pembahasannya, ia menyinggung kemungkinan munculnya konflik sosial-politik, risiko ketergantungan pada listrik, serta ancaman people power apabila situasi ekonomi tidak membaik.

Menurut paranormal tersebut, 2026 dipandang sebagai awal dari masa transisi besar yang puncaknya diperkirakan terjadi pada 2029 menuju 2030. Ia menyebut periode itu sebagai titik penentuan bagi Indonesia, apakah akan benar-benar “take off” atau justru mengalami “crash landing”.

Dalam konteks global, ia menilai konflik internasional belum menunjukkan tanda mereda. Ia menyoroti dinamika geopolitik negara-negara besar, termasuk Amerika Serikat, yang menurutnya dapat berdampak pada Indonesia, terutama pada sektor ekonomi dan distribusi logistik. Ia juga menyebut potensi gangguan jalur Laut China Selatan yang dinilai dapat menghambat pasokan kebutuhan pokok seperti minyak dan beras, terutama jika terjadi blokade atau konflik besar.

Dalam perbincangan tersebut, ia turut menyinggung contoh kesiapsiagaan di Eropa. Ia merujuk pada panduan darurat yang diklaim telah diterbitkan pemerintah di Belanda terkait kesiapan menghadapi krisis energi atau perang, termasuk skenario bertahan tanpa listrik selama tujuh hari.

Salah satu isu yang disorot adalah pemadaman listrik di Bali beberapa waktu lalu. Ia mempertanyakan ketergantungan pasokan listrik yang terhubung dari Jawa melalui kabel bawah laut. Ia juga menyinggung kemungkinan adanya celah strategis jika sistem vital seperti listrik bergantung pada operator asing, meski dalam pernyataannya tidak menyertakan bukti teknis. Peristiwa tersebut ia sebut sebagai peringatan agar Indonesia memperkuat kemandirian energi dan pengawasan infrastruktur.

Ia menekankan bahwa sebagian besar aktivitas modern bertumpu pada listrik, mulai dari perbankan, komunikasi, logistik, hingga kebutuhan rumah tangga. Karena itu, ia mengingatkan dampak luas apabila terjadi pemadaman total.

Dalam ramalan yang ia sampaikan, periode 2026–2029 disebutnya sebagai masa “goro-goro” atau keguncangan. Ia menyebut adanya potensi pergerakan massa, demonstrasi besar, hingga sabotase politik jika ketidakpuasan publik terus menumpuk. Faktor ekonomi seperti sulitnya lapangan pekerjaan dan ketimpangan sosial, menurutnya, dapat menjadi pemicu yang berkembang menjadi “bom waktu”.

Ia juga menyinggung pentingnya kepemimpinan yang berhati-hati dan tidak hanya bergantung pada laporan internal. Dalam pembahasan politik, nama Presiden Prabowo Subianto turut disebut sebagai sosok yang menurutnya perlu mewaspadai dinamika internal kabinet dan tekanan eksternal.

Selain isu geopolitik dan politik nasional, ia menyoroti persoalan sosial seperti maraknya judi online dan kecanduan gim digital pada remaja. Fenomena itu ia sebut sebagai “virus sosial” yang dinilai dapat melemahkan generasi muda jika tidak dikendalikan. Ia mendorong ketegasan negara dalam regulasi konten digital yang dianggap berpotensi merusak mental dan produktivitas anak-anak.

Ia juga mengkritik budaya masyarakat yang dinilai terlalu larut dalam hiburan media sosial sehingga kurang peka terhadap isu strategis nasional. Di sisi lain, ia menyebut kemungkinan adanya “revolusi alam” apabila ketidakadilan sosial terus berlangsung. Yang dimaksud, menurutnya, bukan semata bencana, melainkan rangkaian peristiwa alam yang dapat membuka praktik-praktik tersembunyi seperti tambang ilegal atau penyalahgunaan sumber daya.

Di akhir pembahasannya, ia menekankan bahwa solusi utama, menurut pandangannya, bukan hanya kebijakan teknis, tetapi juga empati pemimpin terhadap rakyat. Ia meyakini kepemimpinan yang adil dapat meredam potensi ledakan sosial.

Ramalan tersebut ditutup dengan refleksi menuju visi Indonesia Emas 2045. Ia menyebut 2030 sebagai titik krusial yang akan menentukan apakah Indonesia dapat lepas landas menjadi negara maju atau justru terjebak dalam dominasi kepentingan asing. Meski berisi prediksi dan spekulasi, perbincangan ini kembali mengangkat isu yang ia anggap penting, seperti kesiapan menghadapi krisis global, kemandirian energi, serta pentingnya kepemimpinan yang adil dan transparan.