JAKARTA – Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara paling kuat dalam menghadapi krisis energi global 2026 berdasarkan riset JPMorgan Asset & Wealth Management. Peringkat ini muncul di tengah tekanan geopolitik akibat konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, yang dinilai mengguncang stabilitas pasokan energi dunia.
Anggota DPR M Sarmuji menilai posisi Indonesia yang relatif kuat bukan terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari kebijakan dan kemampuan membaca situasi global. “Situasi global saat ini tidak mudah. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel berdampak langsung pada rantai pasok energi dunia serta memicu ketidakpastian harga. Dalam konteks ini, posisi Indonesia yang relatif kuat bukan terjadi secara kebetulan, melainkan hasil kerja keras dan kecermatan dalam membaca situasi,” ujar Sarmuji di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Ia menambahkan, capaian tersebut menjadi lebih berarti karena Indonesia masih berstatus sebagai negara net importir energi, khususnya minyak. Menurutnya, kemampuan bertahan di tengah tekanan global mengindikasikan adanya kombinasi kebijakan yang tepat antara pengelolaan sumber daya domestik dan strategi mitigasi risiko.
Dalam laporan berjudul “Pandora’s Box: The Global Energy Shock of 2026”, JPMorgan Asset & Wealth Management menempatkan Indonesia pada posisi kedua dengan tingkat ketahanan 77 persen, tepat di bawah Afrika Selatan yang berada di peringkat pertama dengan 79 persen.
Berikut daftar 10 negara dengan ketahanan energi tertinggi dalam riset tersebut: Afrika Selatan (79 persen), Indonesia (77 persen), China (76 persen), Amerika Serikat (70 persen), Australia (68 persen), Swedia (66 persen), Pakistan (65 persen), Rumania (64 persen), Peru (63 persen), dan Kolombia (60 persen).