BERITA TERKINI
Rupiah dan IHSG Tertekan di Tengah Eskalasi Iran–Israel–AS, Dolar Kian Menguat

Rupiah dan IHSG Tertekan di Tengah Eskalasi Iran–Israel–AS, Dolar Kian Menguat

Gejolak pasar kembali terjadi seiring memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan, sementara dolar Amerika Serikat menguat dan kembali dipandang sebagai aset aman (safe haven).

Berdasarkan data 4 Maret, kurs 1 dolar AS tercatat setara Rp16.898,80. Dalam pergerakan satu bulan terakhir, rupiah sempat menyentuh Rp16.915,30 pada Rabu, 18 Februari, lalu bergerak fluktuatif di kisaran Rp16.800 hingga mendekati Rp16.900 per dolar AS. Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan yang konsisten terhadap rupiah di tengah ketidakpastian global.

Pada hari yang sama, Rabu 4 Maret pukul 14.23 WIB, IHSG pada sesi II berada di level 7.536,85 atau turun 402,92 poin setara 5,07 persen. Secara intraday, indeks dibuka di 7.896,38, sempat mencapai level tertinggi 7.897,81 dan menyentuh level terendah 7.486,32. Nilai transaksi pasar reguler tercatat Rp22,53 triliun dengan frekuensi 2,67 juta kali dan volume 424,65 juta lot. Koreksi lebih dari 5 persen ini mencerminkan tekanan jual yang cukup dalam akibat sentimen eksternal.

Ketegangan geopolitik menjadi pemicu utama. Konflik Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat dilaporkan meningkat drastis dalam beberapa hari terakhir. Serangan balasan terjadi di sejumlah titik strategis dan meningkatkan risiko meluasnya perang di kawasan Timur Tengah. Selat Hormuz kembali menjadi perhatian karena merupakan jalur utama distribusi minyak global, sehingga setiap ancaman terhadap jalur ini kerap memicu kenaikan harga energi dan penguatan dolar AS.

Di tengah eskalasi tersebut, beredar kabar yang menyebutkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Kabar ini dinilai cukup mengguncang psikologi pasar global, mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, terutama dolar AS dan surat utang pemerintah Amerika Serikat.

Situasi ini turut menghidupkan kembali perbincangan mengenai dedolarisasi yang sempat digaungkan aliansi BRICS. Beberapa bulan sebelumnya, negara-negara BRICS—Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan—mendorong penggunaan mata uang selain dolar dalam transaksi bilateral untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS yang masih dominan dalam perdagangan internasional.

Namun Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai gagasan tersebut belum realistis. “Dedolarisasi hanyalah sebuah mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan,” ujar Rahma dalam keterangan tertulis yang dikutip Rabu, 4 Maret 2026.

Menurut Rahma, anggapan bahwa dolar ditakdirkan kehilangan status sebagai mata uang internasional adalah tidak tepat. Ia menilai, jika dolar menghadapi masalah, para pesaingnya pun memiliki persoalan masing-masing.

Ia mencontohkan euro sebagai mata uang tanpa stempel negara. Ketika kawasan euro mengalami masalah ekonomi dan keuangan seperti pada 2010, tidak ada lembaga eksekutif tunggal yang memiliki kewenangan penuh untuk menyelesaikan krisis. Bank Sentral Eropa (ECB) disebut menjadi satu-satunya lembaga yang dapat bertindak cepat, namun kebijakan mencetak uang untuk memonetisasi utang pemerintah dinilai tidak selalu menginspirasi kepercayaan global.

Rahma juga menyinggung renminbi yang dinilai memiliki campur tangan negara terlalu besar. Akses ke pasar keuangan China dan penggunaan mata uangnya secara internasional masih dibatasi oleh kontrol pemerintah yang ketat.

Sementara itu, Special Drawing Rights (SDR) disebut bukan mata uang yang digunakan untuk menagih dan menyelesaikan perdagangan maupun transaksi keuangan pribadi, sehingga dinilai kurang menarik sebagai alternatif cadangan global.

Rahma menegaskan, terlepas dari berbagai persoalan Amerika Serikat, negara tersebut masih merupakan perekonomian terbesar di dunia dengan pasar keuangan terbesar dan kerangka supremasi hukum yang tegas dan jelas. Investor asing, menurutnya, yakin akan diperlakukan secara adil ketika berinvestasi di Amerika Serikat.

Dominasi dolar, kata Rahma, tetap kuat meski Amerika Serikat menghadapi tingkat utang publik yang tinggi dan perpecahan politik domestik. Bank sentralnya, The Federal Reserve (The Fed), juga dipandang memiliki kemampuan untuk mencegah kehancuran sistem keuangan global melalui kapasitas penyediaan likuiditas dolar dalam jumlah besar saat dibutuhkan.

Tekanan pada rupiah di level Rp16.898,80 per dolar AS dan penurunan IHSG sebesar 5,07 persen di tengah konflik Iran–Israel–Amerika Serikat memperlihatkan bahwa dalam setiap krisis global, dolar masih menjadi jangkar utama sistem moneter internasional. Di tengah ketidakpastian geopolitik yang meningkat, wacana dedolarisasi dinilai masih menghadapi jalan panjang, sementara dolar AS tetap menjadi rujukan utama pasar.