BERITA TERKINI
Rupiah Masih Tertekan Sentimen Global, Diproyeksikan Bergerak Rp17.200–Rp17.350 per Dolar AS

Rupiah Masih Tertekan Sentimen Global, Diproyeksikan Bergerak Rp17.200–Rp17.350 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan pada perdagangan Sabtu, 25 April 2026. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta harga minyak dunia yang tinggi disebut menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah di pasar spot global.

Berdasarkan data perdagangan terakhir pada penutupan Jumat (24/4), rupiah sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS. Meski sempat menguat tipis dan ditutup di Rp17.229 per dolar AS, arah sentimen pasar dinilai masih cenderung melemah seiring ketidakpastian ekonomi eksternal.

Analis menilai penguatan indeks dolar AS turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Di saat yang sama, lonjakan harga minyak dunia yang bertahan di atas US$100 per barel menambah beban impor energi nasional, yang kemudian berdampak pada stabilitas nilai tukar.

Dari sisi kebijakan, Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan ini memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75%. Kebijakan tersebut ditempuh sebagai bagian dari strategi “triple intervention” untuk menjaga volatilitas rupiah di tengah memburuknya kondisi global.

Sejumlah faktor yang menjadi perhatian pasar pada hari ini meliputi konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global, sikap hawkish bank sentral AS yang diperkirakan menahan suku bunga tinggi (FFR) di level 3,75% hingga akhir 2026, serta tekanan inflasi domestik akibat kenaikan biaya logistik dan harga energi dunia.

Memasuki akhir pekan, rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif dengan kecenderungan melemah terbatas. Pelaku pasar juga diminta mencermati rilis data ekonomi pada pekan depan, termasuk data inflasi serta laporan ekspor-impor dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Secara teknikal, rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.200 hingga Rp17.350 per dolar AS. Intervensi BI melalui instrumen DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) diharapkan dapat meredam gejolak agar nilai tukar tidak menembus batas resisten baru.