BERITA TERKINI
Saham China Menguat, Pasar Asia Rekor di Tengah Harapan Kesepakatan Dagang AS–China

Saham China Menguat, Pasar Asia Rekor di Tengah Harapan Kesepakatan Dagang AS–China

Pasar saham China menguat pada perdagangan Senin, seiring membaiknya sentimen investor setelah muncul sinyal positif dari perundingan dagang. Indeks Hang Seng China Enterprises sempat naik hingga 1,3%. Di kawasan yang lebih luas, Indeks MSCI AC Asia Pasifik menguat 1,5% dan mencetak rekor intraday baru.

Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah China tenor 10 tahun sedikit meningkat. Kenaikan ini terjadi ketika permintaan terhadap aset aman berkurang, sejalan dengan meredanya kekhawatiran pasar menyusul perkembangan pembicaraan dagang.

Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump diperkirakan akan menandatangani kesepakatan pada pekan ini di Korea Selatan, saat keduanya bertemu langsung untuk pertama kalinya sejak Trump kembali berkuasa. Pertemuan tersebut dinilai berpotensi mengungkap rincian terkait sejumlah isu, termasuk pembelian kedelai AS oleh China, rencana Washington mengenai biaya pengiriman pada kapal China, serta kontrol ekspor tanah jarang oleh Beijing.

Analis Bloomberg Economics, Chang Shu, David Qu, dan Jennifer Welch, menilai pasar memang berharap para pemimpin akan menyepakati kesepakatan, namun dampak jangka panjangnya belum tentu jelas. Mereka menyebut hubungan AS–China kini cenderung ditandai oleh keretakan yang kerap muncul dan solusi jangka pendek.

Menurut mereka, dari perspektif China, berkurangnya ketidakpastian eksternal dapat memberi ruang bagi pembuat kebijakan untuk lebih fokus mendukung perekonomian domestik dan meningkatkan kemandirian teknologi.

Di sisi lain, People’s Daily mendorong AS untuk tetap berpegang pada mekanisme konsultasi perdagangan dan ekonomi yang dipimpin Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng. Surat kabar tersebut menyebut pembatasan ekspor yang diumumkan pejabat AS di luar kerangka itu telah beberapa kali mengganggu sistem dalam beberapa bulan terakhir, dan mendorong Beijing menghambat rantai pasokan tanah jarang yang penting bagi manufaktur AS.

Salah satu area yang dinilai dapat menjadi “kemenangan cepat” adalah tarif 20% yang dikenakan AS terhadap Beijing untuk menekan otoritas China menghentikan aliran bahan kimia prekursor yang digunakan untuk memproduksi obat mematikan. Pengurangan tarif tersebut—yang ditambahkan di atas tarif “Liberation Day”—disebut dapat menguntungkan China pada saat permintaan domestik sedang lemah.

China dan AS telah melakukan lima kali pembicaraan sejak Trump mengumumkan tarif AS tertinggi sejak 1930-an pada April. Rangkaian kebijakan tersebut berujung pada tarif sebesar 55% atas ekspor China ke AS.

People’s Daily menyerukan agar kedua pihak “bertemu di tengah jalan”, menghargai hasil setiap dialog, serta terus membangun rasa saling percaya dan mengelola perbedaan. Artikel itu juga menyatakan kedua negara tidak ingin berpisah.

Ting Lu, kepala ekonom China di Nomura Holdings Inc, menilai investor dari kedua pihak tengah belajar menerima “normal baru” berupa ketegangan, eskalasi, dan gencatan senjata. Ia menambahkan bahwa meredakan ketegangan akan baik bagi dua ekonomi terbesar dunia, namun persaingan di antara keduanya kemungkinan meningkat ke depan.