Saham maskapai penerbangan di kawasan Asia-Pasifik melemah tajam pada perdagangan Senin (2/3/2026) setelah pecahnya konflik militer di Timur Tengah memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan penerbangan internasional dan lonjakan biaya energi.
Qantas Airways memimpin penurunan sektor ini dengan anjlok 10,4 persen ke level 8,92 dolar Australia (Rp106,7 ribu) per saham, yang disebut sebagai titik terendah dalam 10 bulan terakhir. Saham Cathay Pacific, Singapore Airlines, dan Japan Airlines juga turun lebih dari 5 persen.
Volatilitas di pasar mencerminkan kekhawatiran investor atas risiko kerusakan aset dan potensi hilangnya pendapatan dari rute internasional yang melintasi wilayah konflik. Ketidakpastian meningkat setelah muncul laporan wafatnya pemimpin tertinggi Iran, yang dikhawatirkan memperburuk stabilitas politik kawasan.
Analis penerbangan John Strickland menilai skala gangguan transit telah menimbulkan efek berantai pada jaringan penerbangan global. “Besarnya skala pusat transit saat ini mengakibatkan ratusan ribu orang telantar di berbagai belahan dunia tanpa kepastian jadwal, yang akhirnya memicu efek domino yang sangat luas bagi seluruh jaringan maskapai global,” ujarnya.
Tekanan juga menjalar ke maskapai regional lain. Saham Virgin Australia turun 3,5 persen, sementara Air New Zealand menyentuh level terendah sejak April tahun lalu. Di Jepang, aksi jual disebut dipicu kekhawatiran terhadap dampak kenaikan biaya energi terhadap margin laba bersih maskapai.
Di sisi operasional, penutupan mendadak ruang udara di Iran, Irak, dan Israel, serta pembatasan ketat di sejumlah negara Teluk, melumpuhkan aktivitas di Bandara Internasional Dubai dan Bandara Internasional Hamad di Doha. Kondisi tersebut memicu pembatalan massal lebih dari 1.500 penerbangan, atau sekitar 40 persen dari total lalu lintas harian di kawasan itu.
Bandara Internasional Dubai dilaporkan mengalami kerusakan fisik akibat serangan balasan, sehingga seluruh aktivitas penerbangan komersial ditangguhkan. Puluhan ribu penumpang transit dilaporkan terdampar di terminal yang berstatus darurat, sementara maskapai menyatakan memprioritaskan aspek keselamatan di tengah situasi yang terus berubah.
Singapore Airlines menyatakan akan menyesuaikan rute demi keamanan. “Keselamatan pelanggan dan staf kami adalah prioritas utama Grup Singapore Airlines, sehingga kami akan terus memantau situasi di Timur Tengah secara saksama dan menyesuaikan jalur penerbangan sesuai kebutuhan demi menjamin keamanan seluruh operasional armada kami,” kata juru bicara maskapai tersebut.
Sejumlah maskapai internasional kini harus mengambil jalur alternatif yang lebih panjang melalui wilayah udara Afrika atau Arab Saudi bagian selatan. Perubahan ini menambah waktu tempuh penerbangan selama berjam-jam dan meningkatkan konsumsi bahan bakar, sehingga memaksa penjadwalan ulang harian dengan biaya logistik yang tinggi.
Tekanan terhadap industri penerbangan diperparah oleh lonjakan harga minyak. Minyak mentah Brent naik hingga 10 persen ke kisaran 80 dolar AS (Rp1,34 juta) per barel pada Senin (2/3/2026) setelah serangan udara dilaporkan. Pasar juga mencermati risiko gangguan pasokan melalui Selat Hormuz yang dikhawatirkan dapat mendorong harga energi melampaui 100 dolar AS (Rp1,68 juta) per barel dalam waktu dekat.
Kenaikan harga energi berpotensi menjadi ancaman finansial bagi maskapai karena bahan bakar merupakan komponen biaya operasional terbesar. Pasar modal mulai mengantisipasi kenaikan inflasi global, sementara dampak lanjutan diperkirakan dapat terasa pada tarif tiket pesawat dan biaya tambahan bahan bakar bagi konsumen.
Selain layanan penumpang, gangguan rantai pasok kargo udara melalui hub Dubai juga dikhawatirkan menghambat distribusi barang berteknologi tinggi dan perangkat medis lintas benua. Situasi ini disebut mendorong pemerintah di berbagai negara untuk mempertimbangkan kebijakan intervensi ekonomi guna menstabilkan harga energi dan menjaga ketahanan industri transportasi nasional dari dampak konflik di Timur Tengah.

