Para sekutu NATO di Eropa dilaporkan menahan berbagi informasi intelijen dengan Washington di tengah mencuatnya isu rencana pencaplokan Greenland oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta menurunnya tingkat kepercayaan di dalam aliansi.
Menurut laporan surat kabar The i Paper pada Senin, seorang sumber intelijen senior NATO mengatakan para pejabat intelijen Eropa kini “tidak berbicara secara terbuka” dengan AS. Kekhawatiran mereka, informasi yang dibagikan dapat sampai kepada Trump dan berpotensi digunakan dalam upaya merebut pulau tersebut secara paksa.
Sumber itu menggambarkan perubahan suasana hubungan dengan AS yang sebelumnya akrab. “Dulu kami biasa minum bir bersama, tetapi sekarang rasanya sangat aneh. Saya pernah bertempur di Irak dan Afghanistan bersama tentara Amerika. Situasi ini sangat mengganggu dengan cara yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya karena sangat tidak masuk akal dan mengejutkan,” kata sumber tersebut.
Laporan itu juga mengutip sumber intelijen Inggris yang menilai memburuknya hubungan AS dengan sekutunya sebagai sesuatu yang “belum pernah terjadi sebelumnya.” Sumber itu menyebut Inggris telah kehilangan statusnya sebagai mitra utama AS dalam berbagi intelijen dan kini dipandang Washington hanya sebagai “bagian dari Eropa.”
Di sisi lain, Trump pada Sabtu lalu mengumumkan rencana pengenaan tarif tambahan 10 persen terhadap Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris Raya, Belanda, dan Finlandia mulai 1 Februari. Tarif tersebut disebut akan dinaikkan menjadi 25 persen pada Juni, kecuali AS mengakuisisi Greenland.
Trump sebelumnya berulang kali menyatakan bahwa Greenland, wilayah otonom yang merupakan bagian dari Denmark, seharusnya berada di bawah kendali AS.
Otoritas Denmark dan Greenland telah memperingatkan Washington agar tidak merebut pulau tersebut. Mereka menyatakan mengharapkan integritas teritorial mereka dihormati.

