BERITA TERKINI
Simposium Internasional UKWMS Bahas Etika Pembangunan di Tengah Krisis Iklim dan Percepatan AI

Simposium Internasional UKWMS Bahas Etika Pembangunan di Tengah Krisis Iklim dan Percepatan AI

Krisis ekologis global dan percepatan teknologi digital dinilai kian menantang nilai-nilai kemanusiaan. Kondisi tersebut mendorong kalangan akademisi lintas negara untuk meninjau ulang etika pembangunan, teknologi, serta relasi manusia dengan alam.

Isu itu menjadi fokus Simposium Internasional bertajuk “Humanity, Justice, and Ecological Schemes: Rethinking Ethics, Technology, and Sustainability” yang digelar Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) bersama Asosiasi Filsafat-Teologi Indonesia (AFTI).

Forum ilmiah ini berlangsung pada 4–6 Maret 2026 secara luring dan daring di Gedung IMAVI, Kampus Pakuwon City UKWMS Surabaya. Kegiatan tersebut menghadirkan 35 pembicara dalam berbagai sesi paralel dari sejumlah negara.

Ketua Panitia Simposium, Dr. Anastasia Jessica, mengatakan simposium ini merupakan respons akademik terhadap krisis global yang semakin nyata, mulai dari perubahan iklim hingga ketimpangan sosial akibat eksploitasi sumber daya alam.

“Kita bersama melihat perubahan iklim, polusi, hilangnya keanekaragaman hayati, serta ketimpangan antara kelompok yang terdampak dan pihak yang diuntungkan dari eksploitasi lingkungan,” ujarnya.

Menurut Jessica, krisis ekologis tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan teknis atau lingkungan semata. Ia menilai persoalan tersebut berakar pada paradigma pembangunan yang terlalu menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi.

“Banyak model pembangunan saat ini terlalu berfokus pada kebutuhan manusia dan pertumbuhan ekonomi, tanpa memperhatikan batas-batas alam,” katanya.

Simposium ini menghadirkan dua pembicara utama dari luar negeri. Prof. Prospero C. Naval Jr. dari University of the Philippines akan memaparkan makalah berjudul “From Pixels to Wisdom: AI and the Ethics of Contemplative Care for our Oceans.” Dalam paparannya, Prospero menyoroti bagaimana kecerdasan buatan (AI) dapat dimanfaatkan dalam upaya pelestarian laut, sekaligus mengingatkan pentingnya kerangka etika dalam penggunaan teknologi tersebut.

Sementara itu, Dr. Luis Gouveia Leite dari Instituto Superior de Filosofia e Teologia Dom. Jaime Garcia Goulart, Timor-Leste, akan membahas relasi etis antara manusia dan tumbuhan melalui makalah “Relasi Etis Manusia-Tumbuhan dalam Etika Tanggung Jawab Hans Jonas dan Lulik di Timor-Leste.” Melalui pendekatan tersebut, ia mengangkat nilai-nilai kearifan lokal Timor-Leste sebagai perspektif alternatif dalam menjaga keseimbangan alam.

Selain isu ekologi, simposium juga menyoroti dampak percepatan teknologi digital terhadap kehidupan sosial. Sejumlah tema yang dibahas mencakup fenomena dehumanisasi di era teknologi, ketimpangan sosial-ekologis, hingga disorientasi kultural dalam masyarakat modern.

Jessica menegaskan forum ini bertujuan mendorong lahirnya pendekatan etika baru yang lebih adil dan berkelanjutan. “Peserta diajak merefleksikan ulang kerangka etika, tanggung jawab moral, serta implikasi sosial dari kebijakan dan perkembangan teknologi,” ujarnya.

Melalui diskusi akademik ini, Fakultas Filsafat UKWMS berharap dapat melahirkan rekomendasi pemikiran yang mampu menjembatani kepentingan kemanusiaan dengan keberlanjutan ekologis di masa depan.