Pekerja di Indonesia disebut memiliki tingkat kebahagiaan tertinggi dibandingkan pekerja di negara-negara Asia lainnya, termasuk Singapura dan Hong Kong yang dikenal memiliki upah minimum lebih tinggi. Temuan ini berasal dari survei terbaru perusahaan perekrutan Seek, yang mengoperasikan sejumlah platform lowongan kerja seperti Jobstreet di Singapura dan JobsDB di Hong Kong.
Survei dilakukan pada Oktober hingga November 2025 dengan melibatkan ribuan responden dari delapan pasar tenaga kerja di kawasan Asia-Pasifik. Untuk Singapura, respons yang dikumpulkan melibatkan sekitar 1.000 orang berusia 18–64 tahun yang berada di pasar kerja.
Hasil survei menunjukkan perbedaan mencolok antarnegara. Indonesia menempati posisi teratas dengan 82% pekerja menyatakan merasa agak atau sangat bahagia di tempat kerja. Filipina berada di posisi kedua dengan tingkat kebahagiaan 77%.
Di sisi lain, Singapura dan Hong Kong tercatat sebagai dua pasar tenaga kerja dengan tingkat kebahagiaan terendah. Di Singapura, 56% pekerja mengaku merasa agak atau sangat bahagia. Angka ini lebih rendah lagi di Hong Kong, dengan 47% responden menyatakan hal serupa. Temuan tersebut mengindikasikan besaran pendapatan bukan satu-satunya faktor yang menentukan kebahagiaan pekerja.
Survei Seek juga menyoroti hubungan antara gaji dan kepuasan kerja. Di Singapura, hampir setengah responden melaporkan mengalami kelelahan atau burnout akibat tekanan pekerjaan, termasuk sebagian dari mereka yang tetap menyatakan bahagia. Faktor yang paling sering disebut sebagai penyebab ketidakbahagiaan antara lain tingkat stres yang tinggi, terbatasnya peluang pengembangan karier, serta kualitas kepemimpinan senior hingga atasan di perusahaan.
Meski demikian, kenaikan gaji tetap dianggap penting oleh banyak pekerja. Sebanyak 64% responden di Singapura memasukkan gaji lebih tinggi sebagai salah satu dari lima faktor utama yang dapat meningkatkan kebahagiaan di tempat kerja. Pola serupa terlihat di Hong Kong, dengan 69% responden menyatakan gaji yang lebih tinggi akan membuat mereka lebih bahagia. Namun, survei ini juga menunjukkan peningkatan pendapatan tidak otomatis menghilangkan tekanan kerja maupun kelelahan.
Dari sisi generasi, survei mencatat perbedaan tingkat kebahagiaan. Kelompok milenial disebut sebagai yang paling tidak bahagia, terutama terkait stres pekerjaan. Sekitar 31% pekerja milenial mengaku mengalami tekanan kerja tinggi, dan secara keseluruhan hanya sekitar 52% yang menyatakan bahagia di tempat kerja.
Sebaliknya, generasi Z menunjukkan tingkat kebahagiaan lebih tinggi, dengan 62% responden menyatakan bahagia. Kelompok baby boomer tercatat paling bahagia, dengan 71% menyatakan puas di tempat kerja. Laporan tersebut menyebut hal ini kemungkinan terkait posisi baby boomer yang cenderung berada pada jabatan kepemimpinan atau strategis, sehingga dapat mendelegasikan pekerjaan, sekaligus memperoleh stabilitas karier dan apresiasi atas pengalaman.
Survei juga menemukan kesenjangan berdasarkan gender. Sekitar 62% pekerja pria melaporkan bahagia di tempat kerja, sementara pada pekerja wanita angkanya 51%. Laporan itu mengaitkan perbedaan tersebut dengan kesenjangan pendapatan, di mana pekerja pria disebut cenderung memiliki penghasilan lebih tinggi.
Jika dilihat dari tingkat pendapatan, pekerja dengan penghasilan lebih dari S$10.000 (sekitar Rp133 juta) per bulan disebut sebagai kelompok paling bahagia. Sebaliknya, pekerja dengan pendapatan di bawah S$3.999 (sekitar Rp53 juta) per bulan menjadi kelompok dengan tingkat kebahagiaan paling rendah.
Namun, pendapatan tinggi juga berkaitan dengan tingkat kelelahan yang lebih besar. Sekitar 51% pekerja pada kelompok pendapatan tertinggi mengaku mengalami burnout atau stres karena beban pekerjaan. Angka ini bahkan meningkat menjadi 54% pada kelompok berpenghasilan S$6.000 (sekitar Rp79,6 juta) hingga S$9.999 (sekitar Rp132,7 juta) per bulan. Temuan ini menggarisbawahi bahwa tanggung jawab yang lebih besar kerap diikuti tekanan kerja yang lebih tinggi, yang dapat memengaruhi keseimbangan hidup pekerja.

