BERITA TERKINI
Tahun Akademik Baru, Ajakan Refleksi: Dari Reso ke Resolusi di Kampus

Tahun Akademik Baru, Ajakan Refleksi: Dari Reso ke Resolusi di Kampus

Memasuki pergantian tahun, harapan baru kerap menyertai perubahan kalender. Namun bagi dunia akademik, momen ini dinilai tidak cukup dimaknai sebagai penanda waktu semata, melainkan kesempatan untuk melakukan refleksi dan pembaruan arah akademik. Pertanyaan mendasarnya: apakah kampus benar-benar bergerak maju, atau hanya mengulang rutinitas yang sama dalam kemasan berbeda?

Dosen IAIN Parepare, Dr. Musyarif, mengingatkan pentingnya nilai reso dalam budaya Bugis—kerja keras yang tulus—sebagai fondasi kemajuan dan kehormatan. Ia merujuk pada ungkapan “Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase dewata” yang menekankan bahwa keberhasilan dan rahmat akan menyertai mereka yang bersungguh-sungguh berupaya. Nilai ini, menurutnya, relevan untuk dijadikan pegangan ketika memasuki tahun akademik baru.

Namun ia menilai, di banyak kampus, pergantian tahun sering berlalu tanpa perubahan berarti. Aktivitas akademik kembali berjalan seperti biasa: perkuliahan, rapat, pelaporan, hingga pemenuhan target kinerja. Kesibukan meningkat, tetapi ruang refleksi justru menyempit. Kampus tampak hidup, namun tidak selalu bertumbuh secara intelektual. Dalam situasi seperti ini, ketangguhan kerap bergeser makna menjadi sekadar kesibukan administratif.

Menurut Musyarif, reso bagi akademisi tidak berhenti pada kerja keras fisik atau pemenuhan kewajiban formal. Ia menekankan ketangguhan yang bersifat intelektual dan moral: membaca dengan tekun, berpikir jujur, meneliti dengan integritas, serta mengajar dengan tanggung jawab. Tanpa ketangguhan tersebut, pengetahuan kehilangan daya hidup dan kampus kehilangan arah.

Ia juga menilai awal tahun semestinya menjadi jeda untuk introspeksi akademik. Bukan hanya menghitung beban mengajar atau jumlah publikasi, melainkan meninjau kembali makna peran sebagai insan akademik. Apakah semangat belajar masih terjaga? Apakah pengetahuan yang diajarkan dan diteliti benar-benar berdampak bagi mahasiswa dan masyarakat? Ataukah rutinitas yang nyaman justru menghambat daya kritis?

Dari sini, Musyarif menggarisbawahi perlunya mengubah reso menjadi resolusi akademik. Resolusi, menurutnya, bukan janji yang ditulis di awal tahun lalu dilupakan, melainkan komitmen nyata untuk bertumbuh secara personal dan institusional: mengajar lebih bermakna, meneliti lebih relevan, dan menulis lebih jujur.

Ia turut menekankan nilai integritas dalam budaya Bugis sebagai keteguhan memegang prinsip. Nilai ini dinilai penting di tengah perubahan cepat dan kecenderungan pragmatis, termasuk saat tekanan administratif makin kuat. Keteguhan diperlukan untuk menjaga idealisme keilmuan dan tetap kritis, meski budaya kampus terkadang lebih menyukai kepatuhan ketimbang pemikiran. Tanpa keteguhan, akademisi mudah lelah dan kehilangan arah.

Musyarif menilai kemajuan kampus tidak dapat dipisahkan dari kualitas akademisinya. Kampus, menurutnya, tidak akan maju hanya dengan gedung megah, slogan visi, atau kebijakan strategis. Pertumbuhan lahir dari etos kerja ilmiah para dosen dan pendidik—mereka yang bekerja tekun, berpikir jujur, dan konsisten memberi kontribusi. Penelitian, ia menambahkan, semestinya menjadi cara hidup, bukan sekadar tuntutan pekerjaan.

Refleksi, lanjutnya, tidak cukup berhenti pada institusi. Akademisi juga perlu berani meninjau diri sendiri. Ia menilai harapan perubahan sering diarahkan kepada kampus, sementara perubahan kebiasaan pribadi kerap dihindari. Dalam filosofi Bugis, perubahan besar dimulai dari dalam: keberanian menetapkan niat dan memperbaiki tindakan. Tanpa pembaruan dari diri, perubahan struktural berisiko hanya menjadi kosmetik.

Pergantian tahun, menurutnya, juga menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan. Setiap tahun yang berlalu tanpa pertumbuhan intelektual adalah kesempatan yang hilang. Kesibukan bukan ukuran keberhasilan, dan produktivitas administratif tidak selalu sejalan dengan produktivitas keilmuan.

Karena itu, ia mendorong agar awal tahun dijadikan titik awal merumuskan resolusi akademik yang sederhana namun konsisten. Tidak harus besar, cukup dimulai dari hal mendasar: lebih tekun membaca, lebih bermakna menulis, lebih jujur meneliti, serta membimbing mahasiswa dengan empati. Dari langkah kecil, perubahan besar dapat tumbuh perlahan.

Pada akhirnya, Musyarif menyebut perjalanan dari reso menuju resolusi sebagai proses kesadaran. Ketika kerja keras bertemu niat tulus dan nilai budaya yang kuat, akademisi tidak hanya bertumbuh sebagai individu, tetapi juga menjadi penggerak kemajuan kampus. Kampus pun tidak semata menjadi tempat bekerja, melainkan ruang pengabdian dan pemuliaan pengetahuan.