BERITA TERKINI
Taiwan Tawarkan Kemitraan Rantai Pasok Semikonduktor, Minta Indonesia Tegaskan Posisi Setara

Taiwan Tawarkan Kemitraan Rantai Pasok Semikonduktor, Minta Indonesia Tegaskan Posisi Setara

Menteri Luar Negeri Taiwan Lin Chia-Lung menyatakan Indonesia berpeluang menjadi mitra penting Taiwan dalam pengembangan industri semikonduktor di Asia Tenggara. Namun, ia menekankan peluang tersebut mensyaratkan sikap Indonesia yang jelas dalam memandang Taiwan sebagai mitra setara, di tengah meningkatnya keterkaitan antara teknologi, ekonomi, dan keamanan global.

Dalam wawancara daring dengan Tempo pada Jumat, 9 Januari 2026, Lin mengatakan perencanaan strategis industri semikonduktor di Asia Tenggara telah berjalan, dengan Taiwan lebih dulu membangun kerja sama industri bersama Vietnam dan Filipina. Ia menilai Indonesia, dengan populasi besar dan potensi pasar yang luas, cocok untuk bergabung dalam kerangka tersebut.

“Indonesia, dengan populasi besar dan potensi pasar yang luar biasa, sangat cocok untuk bergabung dalam kerangka ini,” kata Lin. Namun ia menambahkan, Indonesia perlu menunjukkan sikap yang memandang Taiwan sebagai mitra setara. “Hanya dengan demikian keahlian dan sumber daya pelatihan Taiwan dapat dibagikan untuk memfasilitasi kemajuan industri Indonesia,” ujarnya.

Teknologi, keamanan, dan rantai pasok

Lin menilai perubahan lanskap geopolitik membuat pendekatan lama—mengandalkan Cina untuk ekonomi dan Amerika Serikat untuk keamanan—tidak lagi relevan. Menurut dia, ekonomi dan keamanan kini saling terkait erat, terutama karena teknologi mutakhir seperti semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI) semakin menentukan keseimbangan kekuatan global.

Ia merujuk pada strategi ketahanan rantai pasok Amerika Serikat melalui CHIPS and Science Act pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden, yang disebutnya telah memasukkan Indonesia ke dalam peta ketahanan rantai pasok. Lin menyebut Indonesia, Vietnam, dan Filipina sebagai mitra kerja sama Taiwan dari perspektif Amerika Serikat.

Dalam konteks itu, Lin menilai Taiwan dapat berperan sebagai penghubung bagi Indonesia untuk ikut berpartisipasi dalam rantai pasok semikonduktor. “Saya pikir Taiwan dapat memainkan peran yang sangat penting sebagai jembatan bagi Indonesia untuk berpartisipasi,” tuturnya.

Dampak rivalitas AS–Cina

Lin juga menyinggung bahwa rivalitas strategis antara Amerika Serikat dan Cina membuat posisi netral semakin sulit dipertahankan, terutama terkait standar teknis dan sistem rantai pasok. Ia merujuk pada kunjungan Presiden Donald Trump ke ASEAN pada Oktober lalu sebagai bagian dari dinamika yang mendorong negara-negara kawasan menentukan arah kerja sama.

Menurut Lin, negara-negara di kawasan dihadapkan pada pilihan antara membangun rantai pasok non-merah—yang tidak bergantung pada Cina—atau tetap berada dalam rantai pasok yang masih sangat bergantung pada Cina. “Jadi kami menghadapi pilihan yang sulit. Namun kami harus memilih antara Amerika Serikat dan Cina dalam hal persaingan strategis di bidang teknologi baru,” ujarnya.

Syarat keamanan dan pelatihan talenta

Lin mengatakan Taiwan bersedia mengorganisasi misi untuk membantu negara-negara ASEAN melakukan penilaian industri dan peningkatan kapasitas, dengan pelatihan talenta sebagai langkah awal memasuki rantai pasok semikonduktor. Meski begitu, ia menegaskan kerja sama tersebut mensyaratkan kepercayaan timbal balik dan standar keamanan tertentu.

“Karena kekhawatiran keamanan, Taiwan tidak dapat terlibat dalam transfer teknologi penuh dengan mitra yang sangat bergantung pada negara non-demokratis atau yang memungkinkan rantai pasok merah menembus sistem mereka,” kata Lin. Ia menambahkan, setelah standar minimum keamanan siber demokratis terpenuhi, Taiwan dan Indonesia dapat memulai kerja sama yang lebih substantif. Lin menyatakan dirinya menyarankan Indonesia bermitra dengan Taiwan untuk mengembangkan industri baru di sektor teknologi mutakhir.

Tantangan investasi dan posisi Taiwan di industri global

Meski membuka peluang kerja sama, Lin menilai koneksi ekonomi Taiwan dengan Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan India. Ia menyebut perusahaan besar Taiwan, termasuk Foxconn dan PSMC, telah berinvestasi di India dan menilai India telah menjadi mitra rantai pasok yang dapat dipercaya.

Menurut Lin, Indonesia masih menghadapi tantangan transparansi regulasi serta koordinasi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah.

Di tingkat global, Taiwan saat ini menjadi poros utama dalam rantai pasok semikonduktor. Mengutip International Trade Administration, Taiwan menguasai lebih dari 60 persen pendapatan industri pabrik semikonduktor global dan lebih dari 90 persen produksi chip mutakhir. Pada 2024, industri semikonduktor Taiwan menghasilkan pendapatan lebih dari US$ 165 miliar atau sekitar 20,7 persen dari produk domestik bruto negara tersebut.