Los Angeles — Tekanan ekonomi kembali membayangi Amerika Serikat. Kebijakan tarif impor baru yang berjalan bersamaan dengan lonjakan harga energi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan inflasi domestik, dengan dampak yang paling terasa pada kelas pekerja.
Para ekonom dari Peterson Institute for International Economics memperingatkan bahwa penerapan tarif impor dapat menimbulkan efek substitusi yang serupa dengan kenaikan beban pajak bagi masyarakat. Tekanan finansial ini dinilai berpotensi membesar karena efek ganda, termasuk kemungkinan kenaikan harga dari produsen domestik yang memanfaatkan berkurangnya persaingan barang impor.
Menurut proyeksi para ekonom, arah pemulihan ekonomi ke depan akan sangat dipengaruhi oleh lamanya disrupsi di pasar energi global serta dinamika regulasi tarif—apakah berlanjut ke fase eskalasi atau mulai memasuki tahap relaksasi. Rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) pada 12 Mei mendatang disebut akan menjadi indikator untuk menilai apakah tekanan inflasi sepanjang April meluas ke sektor-sektor esensial di luar komoditas energi.
Laporan terbaru Biro Statistik Tenaga Kerja AS mengonfirmasi meningkatnya tekanan harga. Data mencatat indeks harga energi pada Maret melonjak 10,9% dibanding bulan sebelumnya, sementara harga bensin meroket 21,2%.
Kondisi ini menjadi perhatian karena pengeluaran konsumen merupakan penggerak sekitar dua pertiga perekonomian AS. Di tengah tren inflasi yang dinilai kian meluas, Federal Reserve (The Fed) mengisyaratkan akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk menjaga stabilitas harga. Kebijakan tersebut berpotensi ikut meningkatkan biaya pinjaman, mulai dari kartu kredit hingga kredit kendaraan bermotor.
Selain faktor geopolitik, proteksionisme melalui tarif impor disebut menjadi kontributor utama lonjakan harga. Analisis The Fed memperkirakan rangkaian tarif yang diberlakukan hingga November 2025 telah mendorong kenaikan harga barang inti—indikator inflasi pilihan The Fed—sebesar 3,1% hingga Februari 2026.
Tergerusnya daya beli konsumen tercermin dari keluhan Allen Wang, warga Azusa, California. Saat ditemui di pusat perbelanjaan grosir Costco, ia mengatakan USD200 yang sebelumnya cukup untuk memenuhi keranjang belanjanya kini tidak lagi memadai karena harga yang meningkat. Ia juga mencontohkan, harga produk harian seperti pasir kucing naik hingga USD3 dalam 12 bulan terakhir.
Sejalan dengan kajian para ekonom edisi Februari 2025, tarif atas komoditas asal Kanada, Meksiko, dan Tiongkok diestimasi menggerus daya beli rumah tangga di AS rata-rata lebih dari USD1.200 per tahun. Perhitungan itu belum memasukkan efek lanjutan dari meningkatnya ongkos logistik dan produksi akibat terganggunya pasar energi di tengah konflik dengan Iran.
Dampak kenaikan biaya hidup juga dirasakan Katie Peyrey, nenek 66 tahun asal Burbank, California, yang bekerja sebagai petugas kebersihan di fasilitas rehabilitasi dengan upah minimum. Ia mengatakan harus berjuang lebih keras untuk bertahan hidup sekaligus membiayai cucunya yang mengidap autisme.
“Saya memilih (Donald) Trump karena dia berjanji akan memperbaiki keadaan bagi kami,” kata Peyrey.
Peyrey menuturkan, sebelum pergantian administrasi kepresidenan, pengeluaran rumah tangganya—meliputi sewa, listrik, bahan pokok, transportasi, pajak, hingga perawatan medis cucunya—sudah berada di kisaran USD2.300 per bulan, sementara pendapatannya stagnan di USD2.400 per bulan. Ia menyebut pengeluarannya kini meningkat menjadi lebih dari USD2.500 per bulan sehingga tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan. Untuk menutup kekurangan, ia terpaksa meminjam dari kerabat yang juga mengalami tekanan ekonomi serupa.
Kekhawatiran sejalan disampaikan Christian Devito, petugas Keselamatan dan Kesehatan Kerja berusia 34 tahun di sebuah jaringan ritel besar di Los Angeles. Ia mengungkapkan pengeluaran bulanannya naik 15% hanya dalam tiga bulan terakhir.
“LA itu sangat luas, jadi biaya perjalanan ke tempat kerja melonjak dari USD50 seminggu menjadi lebih dari USD70. Dan tagihan makanan dan listrik saya juga meroket. Itu benar-benar membuat saya kesulitan,” ujar Christian.
Meski mengaku menyukai pekerjaannya, Christian mengatakan ia cemas terhadap ancaman inflasi berkepanjangan yang menurutnya dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah dan rangkaian kebijakan tarif baru.