BERITA TERKINI
Tokoh Politik Ogan Ilir Soroti Kepentingan Strategis di Balik Konflik Iran–Israel–AS dan Risiko Guncangan Ekonomi Global

Tokoh Politik Ogan Ilir Soroti Kepentingan Strategis di Balik Konflik Iran–Israel–AS dan Risiko Guncangan Ekonomi Global

Eskalasi konflik internasional yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat dinilai berpotensi memicu dampak luas, baik terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah maupun perekonomian global. Situasi tersebut juga dipandang dapat berimbas pada kepentingan nasional Indonesia.

Pandangan itu disampaikan tokoh politik Kabupaten Ogan Ilir, Iklim Cahya, yang juga mantan Ketua DPRD Ogan Ilir periode 2009–2014, saat dimintai tanggapan pada Selasa (3/3/2026).

Iklim menilai, dalam peta geopolitik Timur Tengah, Iran menjadi satu-satunya negara yang hingga kini berseberangan secara terbuka dengan Amerika Serikat. Ia berpendapat, setelah Irak dan Libya dilemahkan melalui konflik bersenjata yang menumbangkan Presiden Saddam Husein dan Muammar Khadafi, sebagian besar negara di kawasan tersebut kini berada dalam pengaruh atau menjadi sekutu Amerika.

“Karena itu, Iran menjadi target strategis berikutnya. Apalagi Iran secara politik dan ideologis sangat memusuhi Israel, yang merupakan sekutu utama Amerika Serikat di kawasan,” ujarnya.

Menurut Iklim, kepentingan Amerika Serikat terhadap Iran tidak hanya terkait politik dan keamanan, tetapi juga memiliki dimensi ekonomi yang besar. Ia menyoroti posisi Iran yang menguasai Selat Hormuz, jalur perlintasan utama ekspor minyak dunia dari dan menuju kawasan Timur Tengah.

“Selat Hormuz adalah jalur strategis energi global. Siapa yang memiliki pengaruh di sana, akan memiliki posisi tawar besar dalam peta energi dunia,” katanya.

Meski demikian, ia menilai upaya menaklukkan Iran bukan perkara mudah. Karakter masyarakat Iran yang dikenal gigih dan memiliki militansi tinggi disebut dapat menjadi faktor penentu dalam dinamika konflik. Ia juga menilai, bila konflik terus berlangsung, situasi berpeluang memakan waktu panjang.

“AS dan Israel belum tentu mudah menguasai Iran. Karakter perlawanan masyarakatnya cukup kuat. Karena itu, jika konflik terus berlangsung, sangat mungkin akan memakan waktu panjang,” ujarnya.

Iklim turut menyinggung kabar mengenai terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran dalam serangan militer di Teheran. Namun, ia memprediksi kondisi tersebut tidak serta-merta menghentikan perlawanan dan justru berpotensi memperpanjang konflik.

Ia memperingatkan, apabila pertempuran berlangsung lama, stabilitas Timur Tengah sebagai wilayah penghasil minyak terbesar dunia dapat terguncang. Dampaknya, kata dia, akan terasa pada perekonomian internasional melalui lonjakan dan ketidakstabilan harga minyak dunia.

“Ketika harga minyak naik dan tidak stabil, maka akan berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya. Ini efek berantai yang harus diwaspadai,” tegasnya.

Iklim berharap situasi dapat segera tertanggulangi melalui jalur diplomasi internasional. Ia mengingatkan, bila konflik semakin meluas, dikhawatirkan dapat berkembang menjadi konflik berskala besar yang berdampak fatal terhadap stabilitas global.

Bagi Indonesia, ia menilai gejolak di Timur Tengah perlu diantisipasi secara serius agar tidak mengganggu perekonomian dalam negeri. “Indonesia harus bersiap. Jangan sampai gejolak global justru menyulitkan masyarakat kita akibat kenaikan harga dan tekanan ekonomi,” katanya.

Selain sektor energi, ia juga mengingatkan potensi terganggunya ekspor Indonesia ke negara-negara Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu mitra dagang penting. Terkait wacana Indonesia mengambil peran sebagai penengah, Iklim menilai langkah tersebut sebaiknya dilakukan secara kolektif melalui organisasi internasional seperti Gerakan Non-Blok, Organisasi Kerja Sama Islam, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.