Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memfasilitasi penyelenggaraan Seminar dan Rapat Anggota I 2026 Perkumpulan Asosiasi Dana Pensiun Indonesia Komisariat Daerah (ADPI Komda) V Jawa Tengah dan DIY. Kegiatan ini digelar di ruang seminar lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah UMS, Solo, Jawa Tengah, Rabu.
Forum tersebut mengangkat tema “Dampak Perang Timur Tengah terhadap Indonesia dan Strategi Pengelolaan Aset Dana Pensiun”. Sejumlah pengelola dana pensiun, regulator, dan akademisi hadir untuk membahas dinamika global serta implikasinya terhadap sektor keuangan nasional, khususnya industri dana pensiun. Dalam kegiatan ini, UMS berperan sebagai fasilitator diskusi ilmiah terkait tantangan global yang berkembang.
Ketua ADPI Komda V, Dede Haris Sumarno, menyampaikan bahwa terpilihnya UMS sebagai lokasi kegiatan selama dua tahun berturut-turut mencerminkan kuatnya kolaborasi antara ADPI dan UMS. Ia menilai UMS memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan kapasitas sumber daya manusia serta penguatan diskursus ekonomi nasional.
Dede menilai seminar ini relevan di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang, menurutnya, tidak hanya berdampak secara regional, tetapi juga memengaruhi stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. Ia menyebut dampak tersebut terlihat pada fluktuasi harga energi, nilai tukar rupiah, hingga kinerja pasar keuangan.
Menurut Dede, kondisi tersebut menuntut pengelola dana pensiun menerapkan strategi investasi yang lebih hati-hati namun tetap adaptif. “Pengelolaan aset harus prudent tetapi juga agile dalam merespons dinamika global,” ujarnya.
Ia juga memaparkan bahwa di tengah tekanan global, industri dana pensiun nasional dinilai masih menunjukkan ketahanan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2026, total aset dana pensiun nasional mencapai sekitar Rp1.700 triliun atau tumbuh 12,52 persen.
Sementara itu, perwakilan ADPI Pusat, Bambang Sri Mulyadi, mengapresiasi inisiatif Komda V dalam menyelenggarakan forum tersebut. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan menghadapi kondisi ekonomi yang tidak pasti agar pengelolaan dana tetap optimal dan berorientasi pada kepentingan peserta.
Bambang juga menyoroti dinamika industri dana pensiun di Indonesia, di mana jumlah dana pensiun disebut mengalami penurunan meski dari sisi aset masih mencatat pertumbuhan. Menurutnya, kondisi itu menjadi tantangan bagi keberlanjutan industri dana pensiun ke depan.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bagian Pengawasan LJK 1 OJK Surakarta, Septarini Haryati, menyebut forum ADPI Komda V sebagai wadah strategis untuk memperkuat koordinasi dan kapasitas pengelolaan dana pensiun di tengah kompleksitas ekonomi global. Ia menegaskan dana pensiun memiliki peran penting dalam sistem keuangan nasional, bukan hanya sebagai instrumen perlindungan hari tua, tetapi juga sebagai pilar pembiayaan jangka panjang yang berkelanjutan.
Septarini menekankan pengelolaan dana pensiun perlu mengedepankan prinsip tata kelola yang baik, kehati-hatian, dan profesionalisme. Ia juga menyoroti pentingnya manajemen risiko, diversifikasi portofolio, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk menghadapi tekanan eksternal, seraya mendorong sinergi antarpemangku kepentingan guna menjaga stabilitas industri dana pensiun.
Melalui penyelenggaraan kegiatan ini, UMS menyatakan komitmennya untuk berkontribusi dalam pembahasan isu-isu strategis nasional. Dukungan fasilitas, penyelenggaraan, dan partisipasi UMS menjadi bagian dari pelaksanaan forum tersebut.