Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) bersama akademisi dari Iran, Amir Rezaei Panah dari Shahid Beheshti University, Teheran, menggaungkan pesan perdamaian dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Seruan itu juga melibatkan mahasiswa internasional dari Uzbekistan, Pakistan, Yaman, Mali, Sudan, serta Afghanistan.
Pesan perdamaian tersebut disampaikan dalam diskusi bertajuk “International Law, Islamic Civilization Cooperation, and Future Peace: A Comprehensive Dialogue Between Iran and Indonesia”. Forum ini menyoroti peran hukum internasional serta kerja sama peradaban Islam sebagai bagian dari upaya mewujudkan perdamaian di masa depan.
Selain diskusi, Umsura menggelar aksi simbolik berupa penancapan bendera berbagai negara pada peta dunia. Kegiatan itu dimaknai sebagai lambang persatuan dan harapan akan terciptanya perdamaian global di lingkungan kampus.
Rektor Umsura Mundakir mengatakan tema tersebut sengaja diangkat untuk mendorong terciptanya perdamaian global di tengah konflik yang terjadi. Ia juga menyebut kampus sebelumnya pernah melakukan kunjungan ke Iran untuk kajian keilmuan.
“Sebagai masyarakat kampus yang menjunjung nilai kemanusiaan dan cinta damai, kami menyerukan pentingnya perdamaian global di tengah konflik yang terjadi,” kata Mundakir, Selasa (3/3/2026).
Sementara itu, Amir Rezaei Panah menekankan pentingnya kebangkitan kembali cara hidup Islami yang progresif dan berpusat pada iman. Menurutnya, gaya hidup Islami mengintegrasikan spiritualitas, etika, serta kemajuan teknologi dan pembangunan secara harmonis.
“Strategi utama untuk menghidupkan kembali cara hidup Islami adalah melalui pendekatan peradaban dan penguatan identitas. Masa depan harus dilihat melalui lensa budaya dan peradaban, dengan realisme dan pragmatisme, bukan terjebak pada perpecahan masa lalu,” ujarnya.
Dekan Fakultas Hukum Umsura Satria Unggul Wicaksana menilai eskalasi konflik saat ini telah melampaui manuver politik dan mengarah pada realitas perang terbuka. Ia menilai ketika diplomasi diabaikan dan digantikan oleh kekuatan militer, dampaknya tidak hanya hilangnya kedamaian, tetapi juga hilangnya nalar.
“Ketika diplomasi diabaikan dan digantikan oleh kekuatan militer, dunia tidak hanya kehilangan kedamaian, tetapi juga kehilangan akal sehat,” ucapnya.
Ia menambahkan, Indonesia dinilai memiliki peran strategis melalui politik luar negeri Bebas-Aktif yang berlandaskan amanat konstitusi untuk ikut menciptakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Dalam kerangka itu, Indonesia disebut dapat menjadi kekuatan lunak (soft power) yang mendorong penyelesaian konflik secara damai.
Pihak kampus berharap rangkaian kegiatan tersebut membuat pesan perdamaian tidak berhenti sebagai wacana, melainkan menjadi gerakan moral yang mendorong kesadaran generasi muda untuk ikut menjaga stabilitas dan kemanusiaan dunia.

