Masjid Daarul Muttaqin Universitas Alma Ata, Yogyakarta, menggelar kuliah sebelum Sholat Tarawih pada Selasa (3/3/2026) dengan menghadirkan Ustadz Ahmad Rikza AlBana Al-Hafidz. Dalam tausiyahnya, ia mengajak jamaah untuk tidak larut dalam kekhawatiran berlebihan di tengah berbagai gejolak dunia.
Ustadz Ahmad Rikza yang juga Mudir Kulliyah Huffadz Universitas Alma Ata menyinggung sejumlah peristiwa global yang dinilainya memunculkan keresahan di masyarakat, mulai dari krisis genosida di Palestina hingga konflik multinasional lainnya. Ia menilai situasi yang penuh ketidakpastian kerap memicu rasa takut dan cemas berlebihan.
Untuk merespons kondisi tersebut, ia mengajak jamaah bertumpu pada pedoman Al-Qur’an melalui tadabbur Surah Al-Baqarah ayat 38. Ayat itu, menurutnya, memuat pesan ketenangan bagi mereka yang mengikuti petunjuk Allah SWT.
Dalam ceramahnya, ia membacakan Surah Al-Baqarah ayat 38: “Kami katakan, ‘Turunlah kalian semua dari surga itu! Lalu jika datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak mereka bersedih hati’ (Surat Al-Baqarah ayat 38).”
Ia menjelaskan ayat tersebut mengisyaratkan kondisi Nabi Adam AS setelah menghadapi ujian dan diturunkan dari surga akibat kekhilafan terhadap perintah Allah SWT. Meski demikian, Allah tetap memberikan jaminan petunjuk dan ketenangan bagi siapa saja yang mengikuti hidayah-Nya.
“Jangan khawatir berlebihan. Allah selalu menjaga orang yang bertakwa. Siapa yang mengikuti petunjuk Allah, maka tidak ada rasa takut dan tidak pula bersedih hati,” ujarnya di hadapan jamaah.
Namun, ia menegaskan keyakinan terhadap janji Allah tidak berarti mengabaikan ikhtiar lahiriah. Menurutnya, upaya menjaga stabilitas dan keamanan tetap diperlukan, serta harus diiringi dengan doa dan ketergantungan kepada Allah SWT.
“Selain ikhtiar zahir dan menjaga stabilitas keamanan dunia, penting bagi kita untuk banyak berdoa kepada Allah memohon perlindungan-Nya,” tuturnya.
Ia menambahkan, Ramadhan menjadi momentum untuk membangun kedamaian dalam diri dan lingkungan sekitar. Jamaah diajak memperkuat kesabaran, memperbanyak ibadah, dan menumbuhkan keyakinan bahwa pertolongan Allah akan datang kepada orang-orang yang beriman.
Menurutnya, Ramadhan semestinya dimaknai sebagai sarana memperkuat ketakwaan dan optimisme, bukan menambah kekhawatiran atas berbagai ujian kehidupan. Dengan mengikuti petunjuk Allah, umat Islam diyakini dapat memperoleh ketenangan dan perlindungan sebagaimana janji-Nya dalam Al-Qur’an.

