BERITA TERKINI
Wall Street Menguat, Harapan Diplomasi Iran dan Rebound Saham Teknologi Angkat Indeks

Wall Street Menguat, Harapan Diplomasi Iran dan Rebound Saham Teknologi Angkat Indeks

NEW YORK. Indeks-indeks utama Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (4/3/2026), ditopang kabar bahwa Iran memberi sinyal keterbukaan untuk berunding. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berjanji menstabilkan pasar minyak turut meredakan kekhawatiran investor terkait konflik di Timur Tengah.

Pada penutupan perdagangan, Dow Jones Industrial Average naik 238,14 poin atau 0,49% ke 48.739,41. S&P 500 menguat 52,87 poin atau 0,78% ke 6.869,50, sementara Nasdaq Composite melonjak 290,79 poin atau 1,29% menjadi 22.807,48.

Penguatan terutama ditopang kembalinya minat investor pada saham-saham teknologi. Lonjakan sektor ini mengangkat Nasdaq dan membuat indeks yang didominasi saham teknologi tersebut tetap berada di zona positif sejak serangan AS-Israel terhadap Iran memicu eskalasi konflik di Timur Tengah.

S&P 500 juga bertahan dekat rekor penutupan tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada Januari, seiring dukungan dari laporan ekonomi AS yang dinilai positif.

Di sisi geopolitik, sebuah laporan New York Times menyebut agen intelijen Iran secara tidak langsung menghubungi CIA sehari setelah serangan. Namun, para pejabat AS disebut masih skeptis apakah pemerintahan Trump maupun Iran siap melakukan de-eskalasi dalam waktu dekat.

Pasar turut bereaksi terhadap pengumuman Trump mengenai pengawalan angkatan laut AS untuk kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz serta penyediaan asuransi risiko politik. Langkah tersebut dinilai memberi sedikit ketenangan karena mengurangi kekhawatiran terjadinya gangguan besar di pasar minyak yang berpotensi mendorong harga energi dan menekan inflasi.

Jim Awad, direktur pelaksana senior di Clearstead Advisors LLC, menilai kombinasi kabar terkait diplomasi dan kebijakan di pasar minyak meningkatkan kepercayaan investor untuk kembali membeli saham teknologi yang sempat turun tajam pada Februari dan dinilai lebih murah dibanding beberapa pekan sebelumnya. Ia menambahkan optimisme pasar akan diuji dalam beberapa minggu ke depan, seraya mengingatkan agar investor tetap realistis dan tidak terbawa suasana.

Sementara itu, Richard Bernstein, kepala eksekutif Richard Bernstein Advisors, menilai prospek perang yang memicu tambahan tekanan inflasi menjadi salah satu faktor utama yang dapat memicu volatilitas pasar ke depan. Menurutnya, jika pelaku pasar menilai perang akan singkat atau tidak terlalu berdampak pada ekonomi AS, saham berpeluang menguat. Namun, konflik yang berkepanjangan dan memengaruhi ekonomi dapat memicu volatilitas yang lebih besar.

Indeks volatilitas Cboe (VIX), yang kerap disebut “pengukur ketakutan” Wall Street, turun ke sekitar 21 atau melemah sekitar 10% pada hari itu. Penurunan ini menandakan pelaku pasar memperkirakan gejolak jangka pendek yang lebih kecil meskipun konflik masih berlangsung.

Sejak serangan udara pada akhir pekan lalu, Nasdaq tercatat naik 0,61% dan indeks saham perusahaan kecil Russell 2000 naik 0,42%. Namun, secara mingguan S&P 500 turun 0,14% dan Dow Jones melemah 0,49%.

Di tingkat sektoral, sektor energi justru memimpin penurunan pada S&P 500. Saham-saham energi yang sempat menguat dalam beberapa hari terakhir karena kekhawatiran kenaikan harga minyak berbalik arah. Exxon Mobil ditutup turun 1,3%, sementara ConocoPhillips melemah 2,42%.

Beberapa negara di Timur Tengah dilaporkan menghentikan sementara produksi minyak dan gas, sementara AS berupaya memperluas kampanyenya di Iran. Meski demikian, harga minyak berakhir nyaris tidak berubah setelah sesi yang bergejolak. Minyak mentah Brent ditutup di US$81,40 per barel, stabil dibanding penutupan Selasa dan berada pada level tertinggi sejak Januari 2025.

Dari sisi data ekonomi, Federal Reserve menyatakan aktivitas ekonomi AS sedikit meningkat, harga terus naik, dan tingkat pekerjaan stabil dalam beberapa minggu terakhir. Laporan tersebut juga menunjukkan ekspektasi ekonomi yang optimistis. Survei swasta turut mengindikasikan penggajian sektor swasta meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada Februari, sementara laporan terpisah menunjukkan aktivitas sektor jasa yang kuat.

Di luar sektor makro dan geopolitik, saham Moderna melesat 16% setelah perusahaan setuju membayar hingga US$2,25 miliar untuk menyelesaikan perselisihan hukum berkepanjangan terkait paten vaksin COVID-19.