BERITA TERKINI
Wamendiktisaintek Hadiri Peresmian Georgetown SFS Asia Pacific di Jakarta, Soroti Peran Indonesia di Global South

Wamendiktisaintek Hadiri Peresmian Georgetown SFS Asia Pacific di Jakarta, Soroti Peran Indonesia di Global South

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menghadiri peresmian Georgetown School of Foreign Service (SFS) Asia Pacific (GSAP) di e Plaza Office Tower, Jakarta, Rabu (26/11). Peresmian ini menandai kehadiran resmi kampus asal Washington, D.C., Amerika Serikat tersebut untuk pertama kalinya di Indonesia, sekaligus menjadi kampus pertama Georgetown University yang beroperasi di kawasan Global South.

Dalam kesempatan itu, Stella menilai pembukaan GSAP sebagai momentum penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat kolaborasi pendidikan, riset, dan diplomasi internasional di kawasan Asia Pasifik. Ia menegaskan bahwa kehadiran kampus ini bukan sekadar pembukaan institusi pendidikan baru, melainkan sinyal meningkatnya peran Indonesia dalam percakapan global.

“Kehadiran Georgetown di Jakarta bukan sekadar pembukaan kampus baru, tetapi sebuah penegasan bahwa Indonesia kini berada di pusat percakapan global. Georgetown telah menaruh kepercayaan besar kepada Indonesia, dan momentum ini harus kita gunakan untuk menunjukkan bahwa bangsa kita mampu berkontribusi pada Ilmu pengetahuan, diplomasi, dan kebijakan global,” kata Stella.

Stella juga mengaitkan pembukaan GSAP dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong ekosistem riset, inovasi, dan pendidikan tinggi yang lebih maju, modern, dan berdaya saing global. Menurutnya, pemerintah mendorong kolaborasi internasional yang transparan dan strategis, serta memastikan kesiapan ekosistem pendidikan Indonesia untuk menjalin kerja sama tersebut.

“Presiden Prabowo menegaskan pentingnya kolaborasi internasional yang transparan dan strategis. Dan kami di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memastikan bahwa ekosistem pendidikan Indonesia siap menyambut kerja sama ini. Georgetown hadir pada waktu yang tepat, saat Indonesia memasuki era baru pendidikan tinggi berbasis penelitian dan inovasi,” ujarnya.

Peresmian GSAP turut dihadiri pejabat pemerintah Indonesia, perwakilan kementerian, akademisi, serta mitra internasional. Rektor Georgetown SFS Asia Pacific, Yuhki Tajima, menyampaikan bahwa pemilihan Jakarta merupakan keputusan strategis yang selaras dengan dinamika kawasan Global South.

“Banyak yang bertanya mengapa kami memilih Jakarta, bukan Singapura. Jawabannya sederhana: Jakarta adalah representasi nyata dari Global South, sebuah ruang hidup untuk inovasi kebijakan dan riset berdampak dan kami memilih berada di sini,” kata Tajima.

Tajima menambahkan, kehadiran GSAP diposisikan sebagai langkah untuk memperkuat Georgetown sebagai universitas global, dengan keberadaan di tiga pusat diplomasi dunia, yakni Washington, D.C., Doha, dan Jakarta. Ia menyebut GSAP telah beroperasi sejak Januari 2025 dengan tiga program utama: Master in Diplomacy and International Affairs (MDIA), Policy Labs, serta Global Cities Initiative.

Policy Labs disebut sebagai laboratorium kebijakan berbasis riset lapangan yang mengkaji isu strategis, termasuk mineral kritis, perikanan berkelanjutan, perlindungan sosial, dan kebijakan perkotaan. Sementara Global Cities Initiative merupakan kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk pengembangan riset dan kebijakan berbasis bukti serta gagasan “education city”.

Dalam pidatonya, Dean Edmund A. Walsh School of Foreign Service Georgetown University, Joel S. Hellman, menekankan bahwa pembukaan GSAP didorong kebutuhan melahirkan generasi pemimpin global dengan pendekatan yang lebih berani dan inovatif. Ia menilai tantangan dunia saat ini berbeda dibandingkan satu abad lalu, sehingga pemimpin masa depan perlu dibekali ide dan pengalaman baru serta pemahaman langsung atas persoalan global.

“Kita perlu berpikir dengan berani dan inovatif dalam melatih generasi baru pemimpin, seperti yang kita lakukan 100 tahun yang lalu. Namun, kita perlu membekali mereka dengan ide-ide baru. Kita perlu memberikan mereka pengalaman baru. Kita perlu menghadapi mereka dengan masalah yang sangat berbeda dari masalah yang kita hadapi saat ini,” kata Hellman.

Menurut Hellman, pendirian GSAP menjadi langkah strategis untuk melatih pemimpin dengan perspektif Global South, pengalaman lintas budaya, dan kemampuan merespons tantangan global seperti perubahan iklim, diplomasi ekonomi, keamanan energi, dan urbanisasi.

Kehadiran Wamendiktisaintek dalam peresmian GSAP disebut menegaskan komitmen pemerintah mendorong Indonesia sebagai pusat pemikiran global, riset strategis, dan kolaborasi internasional. Pembukaan GSAP pun dipandang sebagai tonggak untuk memperkuat posisi Indonesia di kawasan Asia Pasifik sekaligus mendukung penguatan ekosistem pendidikan tinggi yang berdaya saing dunia.