Ketegangan geopolitik akibat perang antara Amerika-Israel dan Iran sejak akhir pekan lalu ikut memanaskan pasar keuangan global. Kekhawatiran resesi, perubahan arah kebijakan The Fed, hingga volatilitas pasar saham kembali menjadi sorotan. Dalam situasi seperti ini, sebagian investor cenderung bereaksi cepat terhadap guncangan, padahal yang lebih menentukan ketenangan mengambil keputusan adalah kesiapan struktur portofolio.
Merujuk pada The Economic Times, perbedaan investor yang tetap tenang dan yang panik bukan terutama pada akses informasi, melainkan pada struktur portofolio yang sudah disiapkan sebelum ketidakpastian datang. Pandangan serupa disampaikan William Saputra, content creator dan business owner, yang menilai fokus utama bukan bereaksi terhadap setiap pergerakan pasar, melainkan memastikan fondasi portofolio cukup kokoh untuk bertahan dan tetap bergerak.
William menekankan bahwa likuiditas portofolio tidak identik dengan sekadar memiliki uang tunai. Likuiditas yang sehat, menurutnya, mencakup seberapa cepat aset dalam portofolio dapat dikonversi menjadi kas tanpa kehilangan nilai yang signifikan. Dalam praktiknya, aset memiliki spektrum likuiditas yang berbeda, mulai dari kas dan ekuivalen sebagai yang paling cair, saham blue chip dan ETF di pasar AS yang dapat diperdagangkan cepat, obligasi serta instrumen pasar uang yang relatif stabil, hingga aset tidak likuid seperti properti atau private equity yang lebih sulit dicairkan tanpa potongan harga.
Risiko yang kerap terabaikan, menurut uraian tersebut, adalah ketika investor tidak bisa keluar dari posisi pada harga wajar bukan karena kualitas asetnya buruk, melainkan karena minimnya pembeli saat dana dibutuhkan. Kondisi ini biasanya baru terasa ketika pasar bergejolak dan kebutuhan kas muncul mendadak.
Dalam situasi volatil, respons emosional sering muncul dalam dua bentuk ekstrem: menjual seluruh aset atau melakukan averaging down tanpa perhitungan jelas. Kedua reaksi ini dinilai berangkat dari persoalan yang sama, yakni portofolio yang tidak memiliki struktur likuiditas yang tegas. William memandang ketidakpastian sebagai ujian fleksibilitas struktur yang sudah dibangun, bukan semata sinyal untuk keluar dari pasar.
Ia menilai investor yang terlalu banyak mengunci modal pada aset tidak likuid berisiko terpaksa menjual pada waktu yang tidak ideal, bukan karena analisanya salah, melainkan karena membutuhkan kas secara mendadak. Dalam kerangka ini, masalahnya bukan pada pasar, melainkan pada perencanaan likuiditas sejak awal.
Untuk mengelola hal tersebut, William mengadopsi pola pikir pengelolaan arus kas bisnis ke dalam portofolio investasi dengan membagi likuiditas ke dalam tiga lapisan. Lapisan pertama adalah kas dan dana darurat yang tidak digunakan untuk investasi. Fungsinya menjaga ketenangan dalam pengambilan keputusan, dengan acuan dana darurat setara 3–6 bulan pengeluaran dan disimpan terpisah dari rekening investasi, sehingga investor tidak perlu menjual aset saat ada kebutuhan mendadak.
Lapisan kedua adalah aset likuid yang tetap menghasilkan imbal hasil, seperti saham blue chip dan ETF di pasar AS yang dapat dijual kapan saja dengan spread ketat. Dalam penjelasan tersebut, pasar AS dinilai memiliki likuiditas yang lebih dalam dibanding banyak pasar lokal, sehingga proses keluar dari posisi dapat dilakukan tanpa tekanan harga yang besar. Lapisan ini dimaksudkan tetap “bekerja” sekaligus fleksibel saat perlu dikonversi menjadi kas.
Lapisan ketiga adalah posisi jangka panjang yang sengaja tidak disentuh untuk merespons volatilitas jangka pendek. Bagian ini disebut bekerja berdasarkan keyakinan jangka panjang, bukan sentimen harian.
Selain pembagian lapisan, William juga menekankan pentingnya membedakan sinyal dan “noise”. Ia tidak berfokus pada headline harian, melainkan pada perubahan yang lebih struktural seperti arah suku bunga jangka panjang, kondisi earnings korporasi, serta pergeseran alokasi institusional yang mencerminkan pergerakan modal besar. Ia juga menyoroti pentingnya menyiapkan opportunity fund yang terpisah dari dana darurat agar ada dana yang siap digunakan ketika sinyal tersebut muncul.
Meski demikian, pengelolaan likuiditas tidak diartikan sebagai sikap defensif permanen. Dalam uraian tersebut, terlalu banyak memegang kas karena takut justru bisa menimbulkan cash drag—situasi ketika sebagian modal menganggur sehingga kinerja portofolio tertahan. Disebutkan bahwa portofolio dengan porsi kas menganggur 30–40% dalam jangka panjang berpotensi secara konsisten berkinerja di bawah portofolio yang mengelola likuiditas secara lebih terstruktur.
Pada akhirnya, pendekatan ini menekankan bahwa ketidakpastian global sulit dikendalikan, tetapi struktur portofolio bisa disiapkan. Dengan fungsi yang jelas pada tiap lapisan—keamanan, fleksibilitas sekaligus return, serta pertumbuhan jangka panjang—investor dinilai dapat mengurangi risiko keputusan terpaksa yang sering terjadi di waktu yang tidak tepat.

