BERITA TERKINI
AI dan Semikonduktor Dorong Laba Industri China Naik 15,8% pada Maret 2026 di Tengah Tekanan Energi

AI dan Semikonduktor Dorong Laba Industri China Naik 15,8% pada Maret 2026 di Tengah Tekanan Energi

Kinerja industri China mencatat lonjakan pada Maret 2026, menunjukkan ketahanan ekonomi terbesar kedua dunia di tengah tekanan global yang dipicu kenaikan harga energi dan dinamika geopolitik. Di balik penguatan tersebut, transformasi berbasis teknologi—terutama kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor—menjadi pendorong utama sekaligus penopang baru pertumbuhan.

Data National Bureau of Statistics menunjukkan laba industri China naik 15,8% secara tahunan pada Maret 2026, menjadi laju tercepat dalam enam bulan terakhir. Secara kumulatif, laba perusahaan industri sepanjang kuartal I 2026 tumbuh 15,5%, yang disebut sebagai awal tahun terbaik sejak 2017 di luar periode anomali pandemi.

Peningkatan ini terutama ditopang manufaktur berteknologi tinggi. Industri peralatan mencatat kenaikan laba 21%, sementara sektor high tech melonjak 47,4%. Beberapa subsektor bahkan mencatat pertumbuhan tajam, seperti produsen serat optik yang naik 336,8%, disusul industri optoelektronik 43% dan perangkat display 36,3%. Permintaan produk cerdas seperti drone juga turut mengangkat kinerja, dengan laba meningkat 53,8%.

Dari sisi hulu, produsen bahan baku ikut menikmati dampak kenaikan harga komoditas. Laba produsen bahan baku tumbuh 77,9%, sedangkan industri logam non-ferrous melonjak 116,7%. Kinerja ini dikaitkan dengan permintaan dari sektor strategis seperti energi baru, kedirgantaraan, dan teknologi informasi generasi berikutnya.

Ekonom Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang, menilai kuatnya ekspor menjadi faktor penting bagi profitabilitas industri. Pada kuartal pertama, ekspor China tumbuh 14,7% secara tahunan dalam denominasi dolar AS, yang disebut sebagai laju tercepat sejak awal 2022.

Meski begitu, risiko eksternal dinilai meningkat. Lonjakan harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah menjadi tekanan nyata bagi biaya produksi. Harga brent crude disebut naik sekitar 48% sejak eskalasi konflik pada akhir Februari 2026, yang berpotensi mendorong biaya di berbagai sektor, mulai dari kimia hingga plastik.

Namun, struktur energi China yang masih bertumpu pada batu bara dan energi terbarukan dinilai memberi bantalan relatif terhadap gejolak harga minyak. Ekonom Morgan Stanley, Robin Xing, menyebut sekitar 70% sektor industri di China mengalami guncangan biaya yang lebih kecil dibandingkan para pesaing global. Menurutnya, kondisi tersebut menempatkan China pada posisi yang relatif lebih baik dan berpotensi merebut pangsa pasar ekspor di tengah guncangan energi.

Tekanan lain datang dari dinamika geopolitik, termasuk kebijakan Donald Trump yang mempertahankan blokade di Selat Hormuz. Jalur ini sebelumnya dilalui sekitar separuh impor minyak China. Meski cadangan minyak Iran di darat dan kapal tanker sempat menjadi bantalan, gangguan berkepanjangan dinilai berisiko mengganggu pasokan energi dan menekan margin industri.

Sejumlah media global juga menyoroti kontras yang membentuk ekonomi China saat ini: ekspansi pesat sektor teknologi di satu sisi, dan tekanan biaya serta permintaan global di sisi lain. Secara makro, International Monetary Fund dan World Bank memperkirakan ekonomi China tetap tumbuh di kisaran 4,5%–5% pada 2026, meski dibayangi tantangan seperti krisis properti domestik, lemahnya permintaan dalam negeri, dan ketidakpastian global.

Lonjakan laba industri pada awal 2026 mempertegas arah baru perekonomian China, dengan mesin pertumbuhan berbasis teknologi melaju kencang, namun tetap berada dalam bayang-bayang risiko energi dan geopolitik global.