Akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Muhammad Yamin, menilai konflik di Timur Tengah menjadi ujian serius bagi ketahanan energi Indonesia. Menurutnya, tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak serta volatilitas harga energi global membuat dampak konflik mudah terasa di dalam negeri.
Yamin, dosen Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsoed, mengatakan eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi memicu gangguan distribusi energi global. Risiko tersebut, kata dia, terutama meningkat jika situasi memengaruhi jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Ia menjelaskan bahwa sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Karena itu, setiap gangguan di kawasan tersebut dinilai hampir pasti mendorong lonjakan harga minyak mentah di pasar global.
Bagi Indonesia yang masih mengimpor sekitar 50 persen kebutuhan minyaknya, Yamin menilai kenaikan harga minyak dunia dapat berdampak langsung pada anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Ia menyebut, setiap kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi.
Menurutnya, pemerintah berada dalam posisi dilematis antara menjaga stabilitas harga dalam negeri atau mengendalikan defisit fiskal. Selain tekanan fiskal, lonjakan harga energi juga dinilai berisiko memicu inflasi karena meningkatnya biaya transportasi dan logistik.
Yamin menambahkan, dampak lanjutan dapat berupa kenaikan harga pangan dan kebutuhan pokok yang berpotensi menggerus daya beli masyarakat. Ia juga menyebut gejolak energi global kerap diikuti tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik, karena investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman saat ketidakpastian meningkat.
Ia menilai situasi ini semestinya menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi serta memperkuat diversifikasi sumber impor minyak. “Ketahanan energi adalah bagian dari kedaulatan ekonomi. Selama ketergantungan impor masih tinggi, setiap gejolak geopolitik global akan langsung terasa di dalam negeri,” kata Yamin.

