Di tengah ketidakpastian global, saham perbankan besar kembali menjadi perhatian analis seiring meningkatnya risiko eksternal, mulai dari potensi perang hingga pelemahan ekonomi. Dari kelompok bank besar, hanya beberapa yang dinilai memiliki ketahanan lebih baik menghadapi tekanan tersebut.
Stockbit Sekuritas menempatkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebagai dua emiten perbankan yang relatif paling tahan terhadap gejolak saat ini. “Secara fundamental, di antara Big 4 Banks, kami mempertahankan preferensi pada BBCA dan BMRI,” tulis Stockbit Sekuritas, dikutip Jumat, 24 April 2026.
Menurut Stockbit, penilaian itu didasarkan pada manajemen risiko yang dinilai lebih solid serta portofolio kredit yang kuat di segmen korporasi, yang disebut cenderung lebih stabil dibanding segmen lainnya.
Dari sisi kinerja, BBCA pada kuartal I 2026 masih mencatat pertumbuhan. Laba bersih bank tersebut mencapai Rp14,7 triliun, naik sekitar 4% secara tahunan.
Pertumbuhan laba terutama ditopang pendapatan nonbunga yang meningkat signifikan, khususnya dari fee dan komisi. Sementara itu, pendapatan bunga tercatat relatif datar seiring penurunan imbal hasil aset.
Di saat yang sama, tekanan mulai terlihat dari kenaikan beban provisi yang meningkat sekitar 23%. Kenaikan ini mencerminkan langkah antisipatif terhadap risiko kredit di tengah kondisi ekonomi yang dinilai belum sepenuhnya stabil.
Stockbit juga menyoroti potensi dampak jika konflik Iran memburuk. Dalam skenario ekstrem, dengan asumsi harga minyak naik ke kisaran USD130–USD150 per barel (Rp2,21 juta–Rp2,55 juta per barel) dan rupiah melemah hingga Rp18.000–Rp19.000 per dolar AS, tekanan terhadap sektor perbankan diperkirakan akan semakin terasa.
Dalam skenario tersebut, pertumbuhan kredit diproyeksikan melambat tajam bahkan berpotensi stagnan. Risiko kredit juga diperkirakan meningkat, yang tercermin dari potensi kenaikan rasio kredit bermasalah ke level di atas 3%.
Meski demikian, valuasi BBCA dinilai menarik untuk investasi jangka panjang. Stockbit mencatat BBCA diperdagangkan pada valuasi 2,5 kali price to book value forward satu tahun, atau sekitar minus 3 standar deviasi di bawah rata-rata historis lima tahun.
Namun untuk jangka pendek, pergerakan saham perbankan disebut masih sangat bergantung pada sentimen eksternal, terutama arus dana asing dan pergerakan nilai tukar rupiah.