BERITA TERKINI
AS Tinjau Proposal Damai Iran di Tengah Desakan Dunia untuk Membuka Selat Hormuz

AS Tinjau Proposal Damai Iran di Tengah Desakan Dunia untuk Membuka Selat Hormuz

Upaya diplomasi untuk meredakan perang Iran–Amerika Serikat memasuki fase penting setelah Washington mulai meninjau proposal damai dari Teheran. Pada saat yang sama, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan risiko krisis global apabila Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali, seiring meningkatnya tekanan internasional kepada kedua pihak.

Laporan langsung Al Jazeera yang diterbitkan Selasa (28/4/2026) menyebut tim keamanan nasional Presiden AS Donald Trump sedang menelaah rencana damai Iran. Proposal tersebut mencakup penghentian perang dan pembukaan kembali Selat Hormuz, dengan syarat pembahasan program nuklir ditunda ke tahap berikutnya.

Masih pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di St. Petersburg. Dalam pertemuan itu, Araghchi menyatakan Teheran sedang mempertimbangkan permintaan AS untuk melanjutkan kembali negosiasi.

Desakan internasional untuk membuka Selat Hormuz semakin menguat. Puluhan negara menyerukan agar jalur pelayaran tersebut dibuka segera dan tanpa hambatan. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan kebuntuan di jalur maritim vital itu berpotensi memicu krisis pangan dan energi global.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dalam kondisi normal mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia. Gangguan berkepanjangan di kawasan ini dinilai dapat memicu lonjakan harga energi serta berdampak pada distribusi pangan dan rantai pasok global. Sejumlah laporan lain dari Reuters dan BBC pada 27–28 April 2026 juga menyoroti meningkatnya risiko inflasi global akibat terganggunya pasokan energi dari kawasan Teluk.

Meski gencatan senjata diumumkan pada 17 April 2026, situasi di lapangan disebut masih memanas. Serangan Israel di Lebanon selatan dilaporkan terus berlanjut, dengan korban jiwa mencapai sedikitnya 40 orang sejak gencatan diberlakukan.

Hezbollah dan Israel juga masih saling melancarkan serangan. Kondisi ini menunjukkan konflik regional belum sepenuhnya mereda dan dinilai memperumit upaya negosiasi antara AS dan Iran.

Di sisi lain, Iran menegaskan pembukaan Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan selama blokade AS masih berlangsung. Sikap itu sebelumnya disampaikan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada 21 April 2026.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyatakan bahwa blokade, ancaman militer, dan pelanggaran komitmen oleh AS menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi. Sementara itu, Washington tetap mempertahankan blokade laut terhadap Iran sebagai bagian dari tekanan strategis, meski secara formal gencatan senjata masih berlaku.

Dengan proposal damai yang masih ditinjau, tekanan internasional yang meningkat, serta konflik di lapangan yang belum mereda, arah perang Iran–AS kini berada di titik penentuan. Selat Hormuz kian menjadi pusat perhatian, bukan hanya sebagai jalur perdagangan energi, tetapi juga sebagai isu yang memengaruhi stabilitas geopolitik dan ekonomi global.