BERITA TERKINI
Catatan Kritik atas Diplomasi AS: Janji, Intervensi, Tarif, dan Standar Ganda

Catatan Kritik atas Diplomasi AS: Janji, Intervensi, Tarif, dan Standar Ganda

Sebuah tulisan opini menyoroti skeptisisme terhadap kredibilitas diplomasi Amerika Serikat (AS) dengan menilai rekam jejak kebijakan luar negerinya yang dinilai kerap berubah mengikuti kepentingan. Dalam narasi tersebut, kepercayaan disebut sebagai “mata uang” penting dalam hubungan internasional, namun dianggap sering terkikis oleh keputusan Washington yang dipersepsikan mengandung standar ganda serta pendekatan transaksional.

Salah satu contoh yang diangkat adalah Venezuela. Penulis menyinggung upaya AS yang disebut sistematis untuk menekan pemerintahan Nicolas Maduro, termasuk pengakuan terhadap figur oposisi Juan Guaido sebagai “presiden tandingan” dan adanya sayembara hadiah untuk penangkapan Maduro. Langkah-langkah semacam itu dipandang sebagai preseden berbahaya karena menyangkut kedaulatan negara lain dan dianggap menunjukkan bahwa hukum internasional diperlakukan sebagai sesuatu yang opsional.

Contoh berikutnya diarahkan ke Iran. Penulis mengulas pembatalan sepihak AS terhadap kesepakatan nuklir JCPOA, yang dinilai memperlihatkan bahwa komitmen perjanjian dapat berubah seiring pergantian presiden. Selain itu, tulisan tersebut juga menyinggung tindakan serangan mendadak—termasuk pembunuhan pejabat militer tinggi di bandara negara ketiga serta serangan siber ke infrastruktur—yang dipandang memperkeruh situasi dan dinilai tidak selalu melibatkan konsultasi dengan sekutu maupun mematuhi norma hukum perang internasional.

Dari Timur Tengah, sorotan kemudian diarahkan ke Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Penulis menyebut Indonesia kerap diposisikan sebagai “mitra strategis”, namun menilai relasi itu tidak lepas dari tekanan ekonomi. Ancaman tarif dan isu perdagangan—mulai dari subsidi hingga hambatan dagang—digambarkan dapat muncul ketika kepentingan domestik AS terganggu atau ketika Indonesia dianggap terlalu dekat dengan rival Washington. Produk seperti sawit dan tekstil disebut sebagai contoh komoditas yang kerap berada dalam bayang-bayang kebijakan tarif.

Isu lain yang disebut paling mencolok dalam tulisan tersebut adalah dukungan AS terhadap Israel di tengah konflik Palestina. Penulis menilai dukungan itu memperlihatkan standar ganda, terutama ketika Washington dinarasikan tetap memberi perlindungan diplomatik, termasuk hak veto di PBB, dan mengirim bantuan persenjataan, sementara korban sipil dan kerusakan infrastruktur terus terjadi. Dalam pandangan penulis, hal ini membuat retorika AS tentang hak asasi manusia dan tatanan berbasis aturan tampak tidak konsisten.

Penulis menggunakan frasa “tak bisa dipercaya selama 1.000 tahun” sebagai hiperbola untuk menggambarkan lamanya proses pemulihan kepercayaan yang dianggap sudah rusak. Dalam kesimpulannya, tulisan itu menilai dunia bergerak menuju tatanan multipolar dan negara-negara Global South, termasuk Indonesia, dinilai perlu mendiversifikasi hubungan luar negeri agar tidak bergantung pada satu kekuatan. Penulis juga mengutip pernyataan yang dikaitkan dengan Henry Kissinger: “Menjadi musuh Amerika mungkin berbahaya, tetapi menjadi teman Amerika bisa berakibat fatal.”

Secara keseluruhan, tulisan tersebut menekankan bahwa dalam politik internasional, kepentingan kerap menjadi penentu utama. Karena itu, penulis mendorong agar Indonesia menavigasi hubungan dengan AS secara pragmatis dan waspada, tanpa mengorbankan kedaulatan maupun integritas moral.