Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri meningkatkan pengawasan terhadap jaringan terorisme di Indonesia menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya perang Iran–Israel yang melibatkan Amerika Serikat.
Juru Bicara Densus 88 Kombes Mayndra Eka Wardhana mengatakan, langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi ancaman yang dapat mengganggu keamanan masyarakat. “Densus 88 turut meningkatkan pengawasan terhadap ancaman terorisme yang berpotensi mengganggu keamanan masyarakat,” ujar Mayndra, Selasa (3/3/2026).
Mayndra menjelaskan, peningkatan kewaspadaan itu merupakan arahan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk mempertahankan capaian zero terrorist attack di Indonesia. Menurutnya, konflik global yang melibatkan banyak negara dan kelompok kepentingan berpotensi menimbulkan dampak luas, termasuk terhadap stabilitas keamanan dalam negeri.
“Sebagaimana arahan Kapolri, terhadap adanya penilaian bahwa situasi global sedang memanas saat ini, yang mana selain melibatkan banyak negara juga melibatkan banyak kelompok dan kepentingan,” kata Mayndra.
Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menginstruksikan jajaran Densus 88 untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya Iran. Instruksi itu juga dikaitkan dengan upaya memastikan pengamanan arus mudik Lebaran 2026 berjalan aman dan lancar.
Sigit menyebut kepolisian saat ini memonitor 13.252 kelompok yang terindikasi jaringan teror. Ia menilai konflik global yang sedang terjadi berpotensi memicu dampak lanjutan, termasuk di Indonesia. “Ini menjadi perhatian kita karena saat ini sedang terjadi konflik global yang memang memiliki potensi akan adanya geliat terkait dengan hal ini,” ujar Sigit, Selasa (3/3/2026).
Kapolri juga menyoroti pengibaran bendera merah di Iran sebagai simbol pembalasan setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan yang dikaitkan dengan Israel dan Amerika Serikat. Ia meminta Densus 88 mengantisipasi segala potensi ancaman guna mempertahankan kondisi zero terrorist attack di Indonesia, meski secara geografis Indonesia tidak terlibat dalam konflik tersebut.

