Jalur pengiriman minyak dan gas global masih terguncang setelah penutupan Selat Hormuz serta kerusakan infrastruktur energi di Timur Tengah. Di tengah pasar yang belum sepenuhnya tenang, risiko baru muncul dari faktor cuaca: El Nino yang diperkirakan berpotensi menguat dalam waktu dekat.
Reuters melaporkan sebagian besar lembaga meteorologi utama kini memperkirakan fase El Nino kuat mulai terbentuk pada Mei. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut model iklim saat ini bergerak searah dan memberikan keyakinan tinggi bahwa El Nino akan muncul lalu menguat dalam beberapa bulan berikutnya. Suhu permukaan Samudra Pasifik bahkan telah menembus 21 derajat Celsius, yang disebut sebagai salah satu level tertinggi sejak pencatatan era 1980-an.
Bagi pasar energi, El Nino memiliki rekam jejak mendorong gelombang panas di Asia, mengganggu curah hujan, dan menekan musim monsun. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan konsumsi listrik ketika penggunaan pendingin ruangan berlangsung lebih lama seiring naiknya suhu udara.
Asia menjadi kawasan yang dinilai paling krusial karena menyerap sekitar 53% kebutuhan listrik global, berdasarkan data lembaga energi Ember. Namun, bauran pembangkit listrik di sejumlah negara Asia masih sangat bergantung pada batu bara. Reuters mencatat pembangkit berbasis batu bara memasok sekitar 70% listrik India dan 55% di China. Dengan porsi yang masih dominan secara regional, kenaikan permintaan listrik saat gelombang panas berpotensi ikut mendorong permintaan batu bara.
Dalam konteks perdagangan, Indonesia sebagai eksportir batu bara terbesar dunia berpeluang mendapat dampak dari perubahan permintaan tersebut. Reuters mencatat sepanjang 2026, ekspor batu bara Indonesia ke negara-negara Asia sempat turun sekitar 7% dibanding periode yang sama tahun lalu. Penurunan itu dikaitkan dengan kombinasi meningkatnya energi bersih dan melemahnya konsumsi industri seperti semen. Namun, jika El Nino memicu musim panas yang lebih panjang, arah permintaan bisa berubah lebih cepat.
Selain batu bara, gas alam cair (LNG) juga berpotensi diburu untuk memenuhi kebutuhan listrik. Meski begitu, harga LNG saat ini dinilai jauh lebih mahal dibanding batu bara. Reuters mencatat LNG Asia naik dari sekitar US$550 per ton metrik sebelum perang Iran menjadi sekitar US$868 per ton. Sebagai perbandingan, harga acuan ekspor batu bara Indonesia berada di kisaran US$104 per ton, sementara batu bara Australia sekitar US$126 per ton. Dengan selisih harga tersebut, sejumlah pembangkit listrik di Asia diperkirakan tetap memilih batu bara untuk menekan biaya.
Sementara itu, Eropa menghadapi dinamika berbeda. Negara seperti Spanyol dan Italia kerap terdampak gelombang panas saat El Nino. Jika suhu meningkat, impor LNG berpotensi naik untuk menjaga pasokan listrik. Italia menjadi salah satu negara yang disorot karena hampir separuh listriknya masih berasal dari gas.
Di Amerika Utara, kondisi justru berpotensi lebih sejuk dari normal. Jika skenario itu terjadi, konsumsi listrik pada musim panas bisa lebih rendah sehingga lebih banyak gas tersedia untuk ekspor. Adapun Amerika Latin dan Afrika juga disebut perlu waspada karena El Nino kerap mengganggu curah hujan dan menekan produksi pembangkit listrik tenaga air (PLTA), yang dapat memaksa negara-negara di kawasan tersebut mencari sumber pasokan listrik pengganti.