BERITA TERKINI
Empat Guncangan Global Membayangi Ekonomi Indonesia, Neraca Energi Jadi Penopang

Empat Guncangan Global Membayangi Ekonomi Indonesia, Neraca Energi Jadi Penopang

Ekonom INDEF sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Paramadina, Ariyo DP Irhamna, menilai perekonomian Indonesia sedang menghadapi empat guncangan besar dari dinamika global yang berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi nasional. Ia memaparkan tekanan tersebut dalam Forum Guru Besar dan Doktor INSAN CITA bertajuk Resiliensi Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global di Jakarta, Senin (6/4/2026).

Guncangan pertama, menurut Ariyo, berasal dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan sekitar 10 dolar AS per barel diperkirakan menekan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia hingga 3–4 miliar dolar AS, yang tercermin pada neraca pembayaran.

Guncangan kedua terkait ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat. Ariyo menyebut fragmentasi tarif yang semula berada di level 32 persen turun menjadi 19 persen, dengan adanya Section 122 yang menetapkan tarif sementara 10 persen sambil menunggu hasil investigasi. Ia menekankan, persoalan bukan semata besaran tarif, melainkan ketidakpastian kebijakan yang berdampak negatif bagi pelaku ekonomi global.

Guncangan ketiga datang dari China yang sedang mengalami tekanan domestik, sehingga mendorong ekspor produk baja, elektronik, dan tekstil dalam jumlah besar ke pasar Indonesia. Ariyo menilai berbagai kebijakan non-tarif yang diterapkan belum efektif menahan derasnya arus impor tersebut.

Adapun guncangan keempat adalah fenomena decoupling teknologi antara China dan Amerika Serikat. Ariyo menjelaskan Indonesia berada dalam posisi terjepit karena sekitar 34 persen impor mesin berasal dari China, sementara sekitar 25 persen total impor Indonesia juga berasal dari negara tersebut. Di sisi lain, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat mencapai sekitar 12–13 miliar dolar AS.

Di tengah tekanan global tersebut, Ariyo menyoroti kondisi sektor energi Indonesia. Secara faktual, Indonesia mengalami kesenjangan antara produksi dan konsumsi minyak sekitar 1 juta barel per hari. Produksi domestik berada di kisaran 600 ribu barel per hari, sedangkan konsumsi sekitar 1,6 juta barel per hari. Dengan banyak sumber daya minyak yang telah memasuki tahap matang bahkan menurun, Indonesia dinilai rentan terhadap kenaikan harga minyak global.

Meski demikian, Ariyo menekankan analisis tidak bisa hanya berfokus pada minyak bumi. Indonesia saat ini merupakan eksportir bersih untuk komoditas energi lain seperti batu bara, LNG, dan crude palm oil (CPO). Karena itu, perhatian perlu diarahkan pada pergeseran net term of trade (ToT) ketika harga seluruh komoditas energi naik secara bersamaan.

Dari sisi impor, sebagian besar minyak mentah Indonesia berasal dari Arab Saudi, sementara impor bahan bakar minyak (BBM) olahan didominasi dari Singapura. Lebih dari 80 persen pasokan minyak tersebut melewati Selat Hormuz, kawasan yang rentan terhadap gangguan geopolitik. Dalam konteks ini, nilai impor BBM Indonesia sekitar 28 miliar dolar AS disebut berada dalam posisi terancam.

Namun, Ariyo juga memaparkan bahwa pendapatan ekspor energi Indonesia lebih tinggi. Pada 2025, total ekspor energi dari batu bara, LNG, dan CPO mencapai sekitar 54,5 miliar dolar AS. Dengan impor BBM sebesar 28,5 miliar dolar AS, Indonesia masih mencatatkan surplus neraca energi sekitar 26 miliar dolar AS.

“Fakta bahwa kita net importir minyak memang benar, tetapi secara keseluruhan Indonesia adalah net eksportir energi,” ujar Ariyo.

Dengan demikian, di tengah gejolak global, sektor energi dinilai menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan ekonomi Indonesia sekaligus membuka peluang strategis dalam agenda transisi energi ke depan.