Eskalasi militer antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran dinilai berpotensi mengubah lanskap keamanan Timur Tengah secara drastis. Konflik terbuka antarnegara itu dikhawatirkan meluas menjadi perang regional yang membawa dampak kemanusiaan dan ekonomi global.
Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Dr. Darmansjah Djumala, menyebut konfrontasi tersebut menandai babak baru setelah bertahun-tahun kedua pihak terlibat dalam “perang bayangan” melalui operasi intelijen, serangan siber, dan konflik proksi.
“Jika eskalasi tidak segera dikendalikan, konflik ini berpotensi menjelma menjadi perang regional di Timur Tengah,” ujar Djumala dalam keterangan tertulis, Senin (2/3).
Menurut Djumala, jaringan sekutu dan kelompok proksi Iran di sejumlah negara—mulai dari Palestina/Gaza, Lebanon, Irak, Suriah, Yaman hingga Bahrain—berpotensi membuka front baru. Situasi tersebut dinilai dapat menyeret sekutu AS di kawasan ke dalam konflik yang lebih luas.
Ia juga mengingatkan bahwa meluasnya perang dapat mengancam jalur energi strategis, keselamatan pelayaran internasional, serta stabilitas ekonomi global. “Eskalasi ini juga berisiko memperburuk krisis kemanusiaan dan memperpanjang ketidakstabilan politik di kawasan yang sejak lama dilanda konflik,” kata Djumala.
Djumala mendorong komunitas internasional untuk segera mengambil langkah de-eskalasi melalui diplomasi multilateral guna mencegah konflik berkembang lebih jauh.

