BERITA TERKINI
Eskalasi AS-Israel dan Iran Picu Kekhawatiran Pasar, IHSG Diproyeksi Lebih Volatil Awal Maret 2026

Eskalasi AS-Israel dan Iran Picu Kekhawatiran Pasar, IHSG Diproyeksi Lebih Volatil Awal Maret 2026

Bursa saham Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan seiring eskalasi konflik terbaru yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ketegangan geopolitik yang melebar mendorong pelaku pasar mengantisipasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang lebih volatil pada awal Maret 2026.

Dalam beberapa tahun terakhir, konflik global kerap menimbulkan efek berantai terhadap inflasi, kebijakan suku bunga, hingga arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Dengan meningkatnya ketidakpastian, investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil risiko, terutama pada aset berisiko seperti saham.

Jika menilik pola historis, IHSG sering mengalami gejolak pada fase awal konflik, namun tidak selalu berujung pada pelemahan berkepanjangan. Saat konflik Rusia-Ukraina pecah pada Februari 2022, IHSG sempat terkoreksi 1,48% dalam sehari. Namun pada hari berikutnya indeks berbalik menguat sekitar 2% dan dalam jangka menengah bahkan menembus rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di kisaran 7.700. Pada periode itu, lonjakan harga komoditas memicu inflasi global yang tinggi, mendorong bank sentral seperti Federal Reserve dan European Central Bank menaikkan suku bunga secara agresif.

Memasuki 2023, dampak suku bunga tinggi mulai terasa. Krisis perbankan regional di Amerika Serikat memuncak dengan runtuhnya Silicon Valley Bank, sementara sektor properti China tertekan akibat krisis Evergrande Group. IHSG juga sempat tertekan ketika konflik Israel-Palestina memanas pada Oktober 2023, dengan akumulasi koreksi sekitar 4% hingga awal November. Meski demikian, indeks kembali menguat di akhir tahun didorong sentimen window dressing dan January effect, lalu kembali mencetak ATH di atas 7.900 pada 2024.

Pada 2025, dinamika serupa terlihat ketika konflik Israel-Iran memicu koreksi IHSG lebih dari 5% dalam beberapa hari. Setelah fase tekanan itu, IHSG justru reli dan mencetak rekor baru hingga mencapai level 9.200 pada Januari 2026. Bahkan ketika muncul sentimen serangan AS ke Venezuela pada awal Januari 2026, IHSG masih mampu menguat 1,27% karena faktor domestik dinilai lebih dominan, termasuk euforia pasar dan ekspektasi terkait MSCI.

Kini, eskalasi baru antara AS-Israel dan Iran kembali memunculkan kekhawatiran, terutama terkait potensi gangguan jalur energi seperti Selat Hormuz yang dapat mendorong lonjakan harga minyak. Risiko inflasi dinilai dapat meningkat kembali, di saat bank sentral global mulai memasuki fase pelonggaran suku bunga.

Secara historis, IHSG kerap bergejolak pada awal konflik sebelum menemukan keseimbangan baru ketika ketidakpastian mereda. Namun, saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) dengan eksposur asing yang tinggi berpotensi menjadi perhatian karena investor global cenderung mengamankan likuiditas terlebih dahulu saat risiko meningkat.