Eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat bersama sekutunya dan Iran yang menguat pada akhir Februari hingga Maret 2026 dinilai tidak lagi sekadar isu politik luar negeri. Perkembangan terbaru ini memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk dampaknya bagi Indonesia.
Serangkaian serangan yang terjadi dalam periode tersebut, disusul laporan penutupan Selat Hormuz oleh Iran, mengirimkan sinyal risiko baru bagi pasar energi dan rantai pasok dunia. Selat Hormuz selama ini dipandang sebagai jalur strategis perdagangan energi, sehingga setiap gangguan di kawasan itu berpotensi memicu reaksi cepat di pasar.
Dampak yang segera terlihat adalah lonjakan harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga energi pada umumnya dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi, serta memperbesar tekanan pada perekonomian yang tengah rapuh.
Dengan situasi yang berkembang cepat, eskalasi konflik Iran-AS menjadi salah satu faktor ketidakpastian yang dapat memperberat kondisi ekonomi global. Indonesia pun berpotensi terdampak melalui perubahan harga komoditas energi dan dinamika pasar internasional yang lebih bergejolak.

