BERITA TERKINI
Estonia Manfaatkan Krisis Energi Global untuk Percepat Transisi ke Energi Terbarukan

Estonia Manfaatkan Krisis Energi Global untuk Percepat Transisi ke Energi Terbarukan

Menteri Infrastruktur Estonia Kuldar Leis mengatakan krisis energi yang dipicu konflik di Timur Tengah menjadi momentum bagi negaranya untuk mengintensifkan transisi menuju energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.

“Solusi bagi Estonia adalah, kami menargetkan penggunaan bahan bakar alternatif yang lebih luas,” kata Leis saat menjawab pertanyaan wartawan usai agenda forum Misi Bisnis Industri Maritim Estonia ke Indonesia di Jakarta, Selasa.

Leis menjelaskan pasokan energi Estonia tidak terdampak langsung oleh disrupsi pelayaran di Selat Hormuz. Menurutnya, sebagian besar pasokan minyak bagi negara Nordik tersebut berasal dari Norwegia.

Namun, Estonia tetap merasakan dampak tidak langsung melalui kenaikan harga komoditas. Kondisi itu disebut memicu gangguan pada sejumlah proyek yang sedang berjalan, termasuk proyek pembangunan jalan tol dan proyek infrastruktur kereta api lintas negara Rail Baltica.

“Harga BBM di SPBU kami naik 25 persen dibanding dua atau tiga bulan lalu, dan ini menjadi masalah besar bagi pemerintah ataupun masyarakat,” ujar Leis.

Untuk menjaga ketahanan energi di tengah krisis global, Leis menyampaikan pemerintah Estonia akan mengoptimalkan pembangkit listrik tenaga surya dan tenaga angin, serta mengupayakan penggunaan bahan bakar alternatif seperti biogas dan metanol.

Ia juga menyoroti pertumbuhan penggunaan mobil listrik di Estonia. Menurutnya, mobil listrik kini mencapai 20 persen dari seluruh mobil baru di negara itu, meski upaya promosi telah dilakukan selama 10 tahun.

Selat Hormuz disebut mulai tutup secara efektif sejak perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berlangsung pada akhir Februari. Eskalasi tersebut menghentikan pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan rute penting pasokan minyak dan gas alam dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, sehingga harga minyak di banyak negara melonjak.

Sejumlah negara mengambil langkah untuk meredam dampak krisis energi. Pemerintah Belanda, misalnya, mengumumkan paket bantuan hampir 1 miliar euro untuk menahan kenaikan biaya energi bagi rumah tangga. Di Asia, pemerintah Korea Selatan menyerukan pengurangan penggunaan energi, sementara Malaysia mendorong warganya untuk bekerja dari rumah.