Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Ahmad Najib Qodratullah, meminta pemerintah menyiapkan alternatif untuk merespons kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Menurutnya, salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah mempercepat transisi energi dari bahan bakar fosil ke energi baru terbarukan.
Najib menilai pengembangan biodiesel B50 merupakan langkah yang tepat dan dapat mendukung kemandirian energi di tengah krisis global. Ia mendorong agar program tersebut terus diperkuat sebagai produk lokal yang dapat menjadi opsi BBM alternatif.
“Saya mendukung pemerintah untuk terus berinovasi mencari alternatif. Program B50 sebagai produk lokal biodisiel harus didukung guna mencapai kemandirian dalam produksi BBM alternatif. Lalu proses transisi dalam program energi terbarukan yang ramah lingkungan juga harus terus diupayakan,” kata Najib, Selasa (21/4).
Sekretaris Fraksi PAN DPR RI itu juga menyampaikan bahwa keputusan pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi dinilainya telah melalui pertimbangan yang matang. Ia menyebut kekhawatiran masyarakat atas dampak lanjutan dari kenaikan harga tersebut merupakan hal yang wajar.
“Betul selalu ada dampak lanjutan dari kenaikan BBM, tapi perlu diingat bahwa kenaikan tersebut sudah melalui proses yang panjang,” ujarnya.
Meski demikian, Najib menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi dalam situasi saat ini sulit dihindari. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan terhambatnya pasokan minyak mentah dunia yang memicu kelangkaan BBM.
“Dan pilihan terakhir dalam rangka menjaga stabilitas pilihan menaikan harga BBM nonsubsidi menjadi opsi paling berat,” jelasnya.
Menurut Najib, tanpa penyesuaian harga BBM nonsubsidi, stabilitas jangka panjang berpotensi terganggu. Ia juga menilai langkah tersebut dapat mencegah kenaikan harga BBM subsidi.
Ia berharap krisis tidak berlangsung lama dan menilai upaya pemerintah yang telah dilakukan cukup baik bila dibandingkan dengan negara tetangga yang disebutnya terdampak lebih parah.