BERITA TERKINI
Harga Minyak Melonjak, Brent Tembus 101 Dolar di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Stok AS Menyusut

Harga Minyak Melonjak, Brent Tembus 101 Dolar di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Stok AS Menyusut

Harga minyak dunia menguat tajam seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan sinyal permintaan energi global yang masih kuat. Kenaikan ini turut dipicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan, terutama setelah data terbaru menunjukkan penyusutan stok bahan bakar di Amerika Serikat.

Menurut laporan Reuters pada Kamis (23/4/2026), minyak mentah Brent pada penutupan perdagangan Rabu naik 3,43 dolar AS atau 3,48 persen menjadi 101,91 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,29 dolar AS atau 3,67 persen ke level 92,96 dolar AS per barel.

Penguatan harga terjadi setelah data Energy Information Administration (EIA) mencatat penurunan signifikan pada persediaan bahan bakar di AS. Stok bensin turun 4,6 juta barel, jauh melampaui perkiraan pasar. Stok distilat—yang mencakup solar dan bahan bakar pemanas—turun 3,4 juta barel. Penurunan ini dipandang mencerminkan permintaan energi yang masih solid.

Dari sisi geopolitik, sentimen pasar turut tertekan oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Situasi memanas setelah insiden penembakan terhadap kapal di Selat Hormuz serta penyitaan kapal oleh Iran, yang memunculkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan jalur pengiriman energi.

Ketidakpastian juga muncul terkait arah hubungan Amerika Serikat dan Iran. Presiden Donald Trump disebut memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu, namun belum ada kepastian respons dari pihak Iran.

Ketegangan regional ikut meluas, termasuk konflik antara Israel dan kelompok Hezbollah di Lebanon selatan. Perkembangan ini menambah risiko gangguan pasokan energi global.

Di luar Timur Tengah, faktor suplai turut menjadi perhatian. Rusia dilaporkan mulai mengalihkan jalur distribusi minyaknya ke rute alternatif mulai 1 Mei, yang berpotensi memengaruhi arus pasokan ke Eropa. Uni Eropa disebut mempertimbangkan langkah antisipatif dengan menyiapkan kebijakan penimbunan bahan bakar.

Di tengah ketidakpastian tersebut, pemerintah Amerika Serikat juga memberikan kelonggaran sementara terhadap sanksi minyak Rusia selama 30 hari untuk menjaga stabilitas pasokan bagi negara-negara yang terdampak.

Kombinasi permintaan yang tinggi, penyusutan stok bahan bakar, serta meningkatnya tensi geopolitik membuat pasar energi global kembali berada dalam tekanan dan mendorong harga minyak ke level yang lebih tinggi.