Konflik di Timur Tengah mulai mengubah proyeksi pasar gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) global. Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek melalui gangguan pasokan dan lonjakan harga, tetapi juga berpotensi memengaruhi ekspansi pasokan dunia hingga akhir dekade.
International Energy Agency (IEA) dalam laporan kuartalan terbarunya yang dikutip pada Jumat (24/4/2026) menyatakan, gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz sejak awal Maret 2026 telah menciptakan ketidakpastian besar di pasar gas global. IEA menilai kondisi tersebut menghapus hampir 20 persen pasokan LNG global dari pasar dan memicu lonjakan harga di kawasan importir utama.
Gangguan ini terjadi ketika pasar sebelumnya sempat menunjukkan tanda-tanda penyeimbangan pada musim dingin 2025/2026. IEA mencatat perdagangan LNG global meningkat 12 persen secara tahunan pada periode Oktober 2025 hingga Februari 2026, didukung tambahan kapasitas likuefaksi baru, terutama di Amerika Utara.
Dalam periode lima bulan yang sama, harga acuan gas di Eropa dan Asia turun sekitar 25 persen, mencerminkan meredanya tekanan pasokan yang sempat membayangi pasar energi global. Namun, tren itu berbalik tajam pada Maret 2026 ketika konflik di Timur Tengah menyebabkan penutupan de facto Selat Hormuz bagi banyak kargo LNG.
IEA mencatat produksi LNG global turun 8 persen secara tahunan, dipicu penurunan tajam ekspor dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Penurunan tersebut hanya sebagian tertutup oleh peningkatan produksi dari wilayah lain.
Ketika gangguan mulai merembet ke rantai pasok global, pengiriman LNG ikut turun, bahkan penurunannya disebut lebih tajam pada April 2026.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menilai situasi ini menunjukkan rapuhnya sistem energi global. Menurutnya, gangguan terjadi saat pasar gas global sebelumnya sudah ketat, sehingga dampaknya cepat terasa terhadap harga, pasokan, dan keamanan energi.
Harga melonjak, permintaan mulai melemah
Tekanan pasokan langsung tercermin pada harga. Selama periode volatilitas tinggi pada Maret 2026, harga gas alam di Asia dan Eropa melonjak ke level tertinggi sejak Januari 2023.
Harga spot LNG Asia mendekati 21 dollar AS per million British thermal units (MMBtu), sementara harga gas Eropa rata-rata sekitar 18 dollar AS per MMBtu.
Kenaikan harga ini kemudian mendorong tekanan baru di sisi permintaan. IEA mencatat permintaan gas alam di Eropa turun sekitar 4 persen secara tahunan pada Maret 2026, terutama dipicu pembangkitan listrik energi terbarukan yang lebih kuat.
Di Asia, beberapa negara mulai menjalankan fuel switching serta kebijakan pengendalian konsumsi untuk menekan penggunaan gas di tengah krisis pasokan. IEA menilai perkembangan ini menandai perubahan penting karena harga tinggi tidak hanya menjadi konsekuensi pasokan ketat, tetapi mulai mengubah pola konsumsi energi.
Meski demikian, IEA menilai penurunan permintaan tersebut belum cukup untuk mengimbangi hilangnya pasokan dari pasar. Dalam peringatan terpisah pekan ini, Birol menyebut situasi yang terjadi sangat rapuh.
IEA juga menyoroti bahwa cuaca dingin ekstrem di Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur sebelumnya telah memperlihatkan pentingnya fleksibilitas pasokan gas bagi keamanan energi, termasuk pada sistem ketenagalistrikan yang semakin bergantung pada energi terbarukan berbasis cuaca.