BERITA TERKINI
IPB Usulkan Pertanian Biointensif untuk Tekan Dampak Krisis Perang Timur Tengah pada Sektor Pangan

IPB Usulkan Pertanian Biointensif untuk Tekan Dampak Krisis Perang Timur Tengah pada Sektor Pangan

Konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel dan Iran belum menunjukkan tanda mereda. Upaya negosiasi gencatan senjata yang dilakukan beberapa waktu lalu dilaporkan gagal mencapai kesepakatan. Situasi ini turut memicu penutupan Selat Hormuz, yang kemudian mengganggu pasokan bahan bakar minyak dan berdampak pada sektor pertanian global.

Gangguan distribusi minyak dunia membuat harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga menyentuh US$100 per barel. Pada saat yang sama, pasokan gas alam cair (LNG) yang menjadi bahan baku utama pembuatan pupuk juga terdampak. Selat Hormuz disebut memasok sekitar 40% kebutuhan LNG dunia.

Dampak tersebut ikut dirasakan sektor pertanian di Indonesia. Selama ini, 42,89% bahan baku pupuk fosfor Indonesia berasal dari Eropa dan negara Arab yang terdampak perang di Timur Tengah. Terganggunya pasokan LNG disebut membuat produksi pupuk dalam negeri berkurang, yang kemudian mendorong harga pupuk nitrogen naik hingga 32,4%.

Selain pupuk, harga pestisida diperkirakan meningkat 20–30%. Kenaikan harga BBM juga memicu bertambahnya biaya transportasi serta operasional alat dan mesin pertanian. Kombinasi faktor tersebut membuat beban biaya yang harus dikeluarkan petani semakin besar.

Di tengah tekanan itu, IPB menawarkan alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia impor melalui penerapan teknologi pertanian biointensif. Biointensif merupakan metode budidaya yang memanfaatkan hubungan alami antara tanah, mikroba, dan tanaman, dengan menempatkan kesehatan tanah sebagai kunci. Tanah yang kaya bakteri dan jamur baik membantu tanaman menyerap nutrisi sekaligus melindungi dari penyakit. Penggunaan varietas tahan stres juga dianjurkan agar tanaman tetap produktif di tengah perubahan lingkungan.

Penerapan sistem biointensif dapat dilakukan melalui praktik sederhana, seperti rotasi tanaman dan tumpang sari untuk menjaga kesuburan tanah, serta penggunaan pupuk hijau guna memperkaya unsur hara.

Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Suryo Wiyono, menyampaikan bahwa budidaya padi dengan teknologi biointensif mampu menekan penggunaan pupuk pabrikan hingga 30% dan mengurangi penggunaan pestisida 77% lebih sedikit. Menurutnya, penerapan metode ini juga dapat meningkatkan produktivitas panen, berdasarkan uji coba di sejumlah daerah seperti Karawang, Subang, Indramayu, Tegal, dan Bojonegoro.

“Pada komoditas padi, penerapan teknologi biointensif menunjukkan peningkatan produktivitas hingga 24 persen, penurunan biaya produksi sekitar 20 persen, pengurangan penggunaan pupuk sebesar 30 persen, serta penurunan penggunaan pestisida hingga 77 persen,” ujar Prof. Suryo.

Selain efisiensi input, metode biointensif dinilai lebih ramah lingkungan karena berbasis ekologi dan memanfaatkan mikroorganisme tanah untuk menjaga kesuburan serta keseimbangan ekosistem. Dengan berkurangnya ketergantungan pada bahan kimia, jejak karbon yang dihasilkan juga disebut lebih rendah dibanding sistem konvensional.

Dengan berbagai klaim manfaat tersebut, teknologi biointensif dipandang dapat menjadi salah satu opsi strategis untuk menjaga ketahanan pangan nasional di tengah ancaman krisis global yang dipicu konflik di Timur Tengah.