NEW YORK — Penutupan Selat Hormuz menekan pasar gas alam cair (LNG) global setelah ekspor LNG dari Qatar—salah satu pemasok terbesar dunia—terhenti hampir dua bulan. Gangguan tersebut memicu lonjakan harga tajam di Eropa dan Asia, sekaligus menyoroti rapuhnya pasokan di tengah ketergantungan dunia pada jalur pelayaran strategis itu.
Laporan The New York Times menyebut krisis ini memperlihatkan keterbatasan pasokan global. Bahkan Amerika Serikat, yang saat ini menjadi eksportir LNG terbesar dunia, dinilai tidak mampu sepenuhnya menutup kekurangan pasokan akibat tersendatnya pengiriman dari Qatar.
Seperti dikutip Gulf News, guncangan ini menjadi yang kedua bagi pasar gas global dalam lima tahun terakhir, setelah Rusia memangkas pasokan gas pipa ke Eropa pasca perang Ukraina pada 2022. Namun kali ini, sejumlah analis menilai dampaknya berpotensi lebih serius karena kapasitas ekspor LNG Amerika Serikat sudah mendekati batas maksimal.
“Seluruh LNG yang diekspor dari AS sudah berada pada kapasitas penuh,” kata Massimo Di Odoardo dari Wood Mackenzie.
Sejak perang Iran pecah pada akhir Februari, harga LNG di Eropa dan Asia dilaporkan melonjak hingga enam kali lipat dibanding harga gas domestik Amerika Serikat. Kenaikan itu mencerminkan pasar yang semakin ketat dan minim alternatif pasokan.
Sekitar 20% perdagangan LNG global melewati Selat Hormuz, menjadikannya jalur vital bagi keamanan energi dunia. Ketika pelayaran terganggu dan kapal-kapal tertahan, arus pasokan dari kawasan Teluk melambat drastis.
Situasi kian memburuk setelah Qatar menghentikan produksi di fasilitas Ras Laffan—salah satu pusat LNG terbesar dunia—menyusul serangan rudal yang merusak sekitar 17% kapasitasnya. Kerusakan tersebut menambah tekanan pada pasokan global yang sudah terbatas.
Di sisi lain, perusahaan energi Amerika Serikat terus memperluas kapasitas ekspor. Namun pembangunan terminal LNG baru, terutama di kawasan Gulf Coast, memerlukan waktu bertahun-tahun serta investasi bernilai miliaran dolar sebelum bisa beroperasi. Sejumlah proyek memang sedang berjalan, tetapi dinilai belum cukup cepat untuk menggantikan hilangnya pasokan Qatar dalam waktu dekat.
Akibat kondisi tersebut, negara-negara pengimpor besar seperti Italia, Taiwan, dan Korea Selatan dilaporkan berlomba mengamankan pasokan atau beralih ke bahan bakar alternatif. Sebagian pihak bahkan berpotensi menerapkan pembatasan energi sambil mempercepat investasi pada energi terbarukan dan penyimpanan energi.
Gas alam saat ini menyumbang sekitar seperempat konsumsi energi global dan tetap menjadi sumber penting untuk pembangkit listrik serta industri, terutama ketika dunia berupaya beralih dari batu bara menuju energi yang lebih bersih.
Amerika Serikat tercatat mengekspor hampir 18 miliar kaki kubik LNG per hari pada Maret, mendekati rekor tertinggi. Meski demikian, para analis menegaskan bahwa bahkan peningkatan ekspor AS tidak akan cukup apabila gangguan di Selat Hormuz berlangsung lama.
Kekhawatiran terbesar kini bersifat struktural: kerusakan kapasitas ekspor Qatar dan keterlambatan proyek-proyek baru berpotensi menunda pertumbuhan pasokan global selama bertahun-tahun, sehingga harga berpeluang bertahan tinggi. Bagi kawasan pengimpor energi seperti Eropa dan sebagian besar Asia, krisis ini mempertegas bahwa “jaring pengaman” pasokan LNG global semakin menipis dan mendorong banyak negara meninjau ulang ketergantungan mereka terhadap gas alam cair.