Pemerintah Jepang mengumumkan akan melepas tambahan minyak dari cadangan strategis nasional mulai 1 Mei sebagai langkah memperkuat ketahanan energi. Kebijakan ini melanjutkan pelepasan cadangan yang telah dimulai sejak bulan lalu.
Menurut laporan NHK, langkah tersebut diambil menyusul gangguan pasokan global setelah meningkatnya ketegangan di sejumlah kawasan yang berdampak pada jalur perdagangan energi. Salah satu kekhawatiran yang mencuat adalah potensi terganggunya Selat Hormuz, yang merupakan jalur pengiriman minyak penting di dunia.
Sebelumnya, pemerintah Jepang telah mengumumkan pelepasan minyak dari cadangan strategis setara konsumsi nasional selama 30 hari sejak akhir Maret. Pemerintah juga merencanakan tambahan pelepasan setara 20 hari konsumsi mulai awal Mei atau setelahnya. Dalam pengumuman terbaru pada Jumat, pemerintah memastikan tahap tambahan itu akan dimulai pada 1 Mei.
Total minyak yang akan dilepas mencapai 5,8 juta kiloliter yang tersimpan di 10 lokasi penyimpanan di seluruh Jepang. Minyak tersebut akan dijual kepada empat perusahaan penyulingan besar melalui kontrak langsung dengan nilai sekitar 540 miliar yen, atau setara 3,4 miliar dolar AS.
Setelah dijual, minyak akan diolah menjadi bahan bakar seperti bensin dan produk energi lainnya, sebelum didistribusikan ke pasar domestik.
Selain melepas cadangan strategis, Jepang juga mengamankan pasokan alternatif. Pemerintah mengonfirmasi minyak mentah dari Amerika Serikat yang diperoleh melalui skema pengadaan darurat terkait ketegangan di Timur Tengah akan tiba di Jepang pada Minggu ini, dan menjadi pengiriman pertama dari jalur pasokan alternatif tersebut.
Otoritas energi Jepang melalui Agency for Natural Resources and Energy Japan menyatakan berbagai langkah itu diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap stabilitas pasokan energi nasional. Pemerintah menegaskan akan terus memantau kondisi pasar global dan menjaga ketersediaan energi secara berkelanjutan.