Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla menerima kunjungan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di kediamannya di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (3/3/2026) sekitar pukul 10.00. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan santai, lebih menyerupai silaturahmi ketimbang agenda diplomatik resmi.
Model pertemuan semacam itu kerap disebut sebagai quiet diplomacy atau diplomasi senyap—pendekatan yang membuka ruang dialog lebih terbuka tanpa tekanan panggung publik, namun tetap menjaga penghormatan terhadap hal-hal yang belum dapat disampaikan ke media.
Dalam perbincangan di ruang tamu yang tertata rapi dan nyaman, Boroujerdi menyampaikan kondisi rakyat Iran yang disebutnya tengah menghadapi tekanan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Ia berharap Indonesia dapat berperan sebagai jembatan komunikasi. “Kami berharap Indonesia, sebagai negara besar dengan populasi Muslim terbesar di dunia, dapat menjadi jembatan. Rakyat kami sangat membutuhkan dukungan moral dan politik agar suara perdamaian lebih kuat terdengar,” ujarnya.
Jusuf Kalla merespons dengan menegaskan konsistensi Indonesia dalam mendukung perdamaian. “Indonesia selalu konsisten mendukung perdamaian. Kita tidak ingin melihat rakyat menderita karena konflik yang tak berkesudahan. Jika semua pihak bersedia, Indonesia siap membantu membuka ruang dialog,” katanya.
Pertemuan berlangsung tanpa protokol yang kaku. Jusuf Kalla tampak mengenakan batik berlengan panjang tanpa jas resmi, menandai suasana percakapan yang akrab. Kontras juga terlihat dari detail kedatangan duta besar yang disebut menggunakan sedan BMW Seri 7, sementara nuansa pertemuan di dalam rumah tetap sederhana dan personal.
Peran Jusuf Kalla dalam diplomasi dan mediasi konflik bukan hal baru. Ia dikenal terlibat dalam upaya perdamaian di dalam negeri, termasuk dalam penyelesaian konflik Poso, Ambon, dan Aceh melalui pendekatan dialog dan kompromi. Ia juga disebut pernah menjadi penasihat perdamaian di Afghanistan dan Kolombia.
Pertemuan dengan Dubes Iran tersebut menjadi gambaran bagaimana diplomasi senyap dapat berlangsung di luar forum resmi, memanfaatkan kepercayaan dan pengalaman tokoh yang kerap menjadi jembatan komunikasi. Catatan mengenai pertemuan ini dituliskan oleh Cri Sajjana Prajna Wekadigunawan, pengurus pusat Palang Merah Indonesia, sebagai pengingat bagi generasi muda tentang pentingnya diplomasi dalam mewujudkan perdamaian.

