BERITA TERKINI
Karoshi: Kematian akibat Kerja Berlebihan dari Jepang yang Kian Menjadi Ancaman Global

Karoshi: Kematian akibat Kerja Berlebihan dari Jepang yang Kian Menjadi Ancaman Global

Istilah karoshi di Jepang digunakan untuk menggambarkan kematian akibat kerja berlebihan. Konsep ini lahir dari budaya kerja korporat Jepang yang dikenal keras, kompetitif, dan menguras tenaga. Sejak muncul pada 1970-an, karoshi semula kerap dipandang sebagai fenomena yang khas Jepang.

Mengacu pada kajian World Scientific, karoshi didefinisikan sebagai kematian mendadak akibat penyakit jantung iskemik atau gangguan serebrovaskular yang dipicu oleh kondisi kerja ekstrem. Kelelahan fisik yang menumpuk, stres mental, serta gaya hidup tidak sehat disebut menjadi tiga faktor utama yang mempercepat munculnya hipertensi hingga arteriosklerosis.

Namun, sejumlah penelitian terbaru menunjukkan fenomena ini tidak lagi terbatas pada Jepang. Karoshi disebut mulai berkembang perlahan menjadi masalah global di berbagai negara.

Laporan IFL Science pada Rabu (22/4/2026) menyoroti bahwa kerja berlebihan kini menjadi persoalan yang meluas. Studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2021 memperkirakan sekitar 745.000 orang di dunia meninggal pada 2016 akibat penyakit yang terkait dengan jam kerja panjang.

Penelitian tersebut menyebutkan bahwa bekerja 55 jam atau lebih per minggu meningkatkan risiko stroke hingga 35 persen dan risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik sebesar 17 persen dibandingkan jam kerja normal.

Dampaknya pun tidak merata. Laki-laki menyumbang sekitar 72 persen dari total kematian, sementara kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat disebut menjadi wilayah yang paling terdampak.

Bahkan di Eropa Barat dan Amerika Utara yang dikenal memiliki perlindungan tenaga kerja lebih baik, tren kerja berlebihan dilaporkan mulai meningkat. Perkembangan teknologi digital, komunikasi tanpa batas, dan kerja jarak jauh dinilai membuat batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan semakin kabur.

Di sisi lain, ekonomi gig ikut memperkuat anggapan bahwa seseorang harus terus produktif tanpa henti. Jika sebelumnya gambaran kerja berlebihan identik dengan pekerja yang tertidur di kereta Tokyo, kini fenomena serupa hadir dalam bentuk-bentuk baru yang lebih tersembunyi, tetapi meluas di berbagai belahan dunia.