Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memaparkan strategi pemasaran adaptif untuk merespons dinamika krisis global yang berdampak pada sektor pariwisata. Strategi tersebut disampaikan dalam forum The Iconomics CEO Forum & Awards bertajuk “Resilient Leadership in the Age of Disruption” yang digelar di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, Kamis (23/4).
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, menegaskan bahwa pariwisata merupakan industri yang sangat sensitif terhadap perubahan geopolitik global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, kondisi tersebut memengaruhi pergerakan wisatawan dan aspek pendukung perjalanan, seperti rute penerbangan.
Untuk merespons situasi itu, Kemenpar melakukan penyesuaian atau pivot strategi pemasaran internasional dengan mengalihkan fokus pasar dari Eropa dan Amerika ke Asia. “Langkah refocusing yang kami lakukan adalah pivot. Dari sebelumnya berfokus pada pasar Eropa dan Amerika, kini kami mengarahkan perhatian lebih besar ke kawasan Asia,” kata Made.
Pasar prioritas yang dituju meliputi negara-negara ASEAN, terutama Malaysia dan Singapura, serta Jepang, Republik Rakyat Tiongkok, Republik Korea, Australia, dan Selandia Baru. Kemenpar menilai ketujuh pasar ini strategis karena kedekatan geografis, tersedianya akses penerbangan langsung, serta tidak terdampak rute transit yang melewati wilayah konflik.
“Pasar-pasar ini lebih dekat, tidak memerlukan transit melalui kawasan Timur Tengah, dan relatif tidak terdampak lonjakan harga tiket yang signifikan,” ujar Made.
Namun, refocusing ke Asia juga dinilai menghadirkan tantangan berupa meningkatnya persaingan dengan negara-negara lain di kawasan yang sama. Karena itu, Kemenpar mendorong inovasi dan memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam memasarkan destinasi wisata Indonesia.
Salah satu langkah yang ditempuh ialah program co-branding partners, yakni kerja sama co-marketing dan co-branding dengan berbagai merek lokal maupun internasional. Program ini ditujukan untuk memperluas jangkauan promosi pariwisata Indonesia sekaligus meningkatkan nilai tambah produk, termasuk melalui penyelenggaraan berbagai event di daerah.
“Kami menggandeng berbagai mitra untuk berkolaborasi mempromosikan pariwisata Indonesia secara lebih kreatif dan efektif, termasuk melalui penyelenggaraan berbagai event di daerah,” kata Made.
Sementara itu, Founder sekaligus CEO The Iconomics, Bram S. Putro, menilai langkah refocusing yang dilakukan Kemenpar mencerminkan kepemimpinan adaptif dalam menghadapi disrupsi global. “Strategi ini menunjukkan optimisme dan ketangguhan para pemimpin dalam menghadapi tantangan, serta kemampuan untuk tetap tumbuh di tengah kondisi yang dinamis,” ujarnya.
Kemenpar menyatakan optimistis strategi yang tepat, kolaborasi yang kuat, serta semangat inovasi dapat membantu sektor pariwisata Indonesia terus bangkit dan berkontribusi terhadap perekonomian nasional.