BERITA TERKINI
Kenaikan Harga Minyak Goreng Dipicu Lonjakan Biaya Kemasan Plastik di Tengah Tekanan Global

Kenaikan Harga Minyak Goreng Dipicu Lonjakan Biaya Kemasan Plastik di Tengah Tekanan Global

Kenaikan harga minyak goreng di Indonesia belakangan ini tidak semata dipengaruhi faktor pasokan atau distribusi. Biaya kemasan plastik, yang menjadi komponen penting dalam struktur biaya produksi, ikut mendorong harga jual di tingkat konsumen.

Dalam beberapa waktu terakhir, harga bahan baku plastik dilaporkan meningkat tajam, bahkan mencapai sekitar 30–80%. Kenaikan ini dikaitkan dengan gangguan rantai pasok global serta tekanan geopolitik yang ikut mendorong kenaikan harga energi dunia.

Tekanan dari sisi hulu tersebut berdampak langsung pada industri minyak goreng yang bergantung pada kemasan plastik. Ketika biaya produksi meningkat, sebagian beban biaya itu kemudian diteruskan ke harga jual.

Dampaknya mulai terlihat di pasar. Harga minyak goreng kemasan tercatat bergerak naik dan sempat menembus kisaran sekitar Rp15.900 hingga Rp22.000 per liter di beberapa daerah, meski stok nasional disebut tetap aman.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan kenaikan harga minyak goreng domestik sulit dihindari seiring meningkatnya biaya kemasan plastik. “Lonjakan tersebut berasal dari sisi hulu, dipicu oleh ketidakstabilan geopolitik global serta terganggunya rantai distribusi yang berdampak pada naiknya harga bahan baku plastik,” kata Esther dalam siaran pers yang diterima SWA.co.id, Senin (27/4/2026).

Menurut Esther, tekanan biaya yang meningkat mendorong industri untuk mencari alternatif kemasan yang lebih efisien sebagai solusi jangka panjang. Ia juga menekankan perlunya respons cepat pemerintah untuk mengantisipasi dampak lanjutan, mengingat kenaikan harga minyak goreng berpotensi memicu inflasi, menambah beban biaya hidup rumah tangga, serta menekan pelaku UMKM kuliner akibat kenaikan biaya produksi.

Dari sisi makroekonomi, ia menilai kenaikan harga minyak goreng dapat menahan konsumsi masyarakat dan berpengaruh pada perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional. Sebagai kebutuhan pokok, minyak goreng dinilai sulit dihindari dalam pengeluaran harian rumah tangga.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Core Mohammad Faisal menilai kenaikan harga minyak goreng perlu mendapat perhatian serius pemerintah melalui pengawasan ketat rantai pasok. Ia menyebut, selain dipicu lonjakan biaya kemasan plastik di hulu, kenaikan harga juga dipengaruhi persoalan distribusi yang banyak dikendalikan pelaku swasta dari hulu hingga hilir.

Faisal mengapresiasi keputusan pemerintah menahan harga BBM subsidi di tengah kenaikan harga minyak global karena dinilai membantu menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan tersebut disebut dapat menahan penurunan pendapatan riil di tengah tekanan inflasi pangan.

Di tengah memanasnya tekanan geopolitik global, pemerintah juga menghadapi tantangan ketika jalur strategis seperti Selat Hormuz mengalami gangguan. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi kelancaran pasokan bahan baku dan memicu kenaikan harga berbagai komoditas, termasuk minyak goreng melalui peningkatan biaya energi dan bahan baku terkait.