Kepala International Energy Agency (IEA) Fatih Birol memperingatkan bahwa sistem energi global kini berada dalam kondisi rapuh dan menghadapi tingkat krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya, menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Berbicara dalam wawancara dengan France Inter di kantor pusat IEA di Paris, Birol menilai ekonomi global saat ini bergantung pada sangat sedikit aktor, sehingga risiko terhadap pasokan dan harga energi menjadi terkonsentrasi. “Kita hidup dalam situasi yang sangat rapuh. Ekonomi global… saat ini bergantung pada sangat sedikit aktor,” ujarnya.
Menurut Birol, volatilitas di sekitar Selat Hormuz menjadi salah satu faktor risiko utama bagi pasar energi. Gangguan di jalur perairan sempit tersebut, kata dia, berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap ekonomi global.
Birol menggambarkan situasi saat ini sebagai sesuatu yang “tidak masuk akal, tetapi nyata.” Ia menekankan dampak krisis dapat berlangsung lama. “Vasnya sudah pecah. Dan ketika vas pecah, Anda tidak bisa sepenuhnya memperbaikinya,” katanya.
Ia juga menyebut pasar energi global sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik, termasuk sinyal dari aktor politik besar seperti Presiden AS Donald Trump. Pernyataan Trump terkait kebijakan perdagangan dan energi dinilai menambah ketidakpastian pasar, seiring meningkatnya konsentrasi risiko dalam rantai pasok energi.
Selain Timur Tengah, Birol menyoroti perang di Ukraina yang telah mengganggu aliran minyak dan gas serta membentuk ulang rantai pasok global, terutama di Eropa. Ia mencatat Rusia tetap menjadi pemain kunci di pasar energi global meski ada sanksi dan perubahan pola perdagangan, yang turut menambah volatilitas harga dan jalur pasokan.
Birol membandingkan situasi sekarang dengan guncangan minyak pada 1970-an. Namun, ia menilai krisis saat ini lebih berat karena dampaknya tidak hanya pada minyak, melainkan juga gas, pupuk, dan petrokimia.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memperdalam inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global, dengan konsekuensi serius bagi negara berkembang, termasuk di Afrika dan Asia Selatan.
Untuk Eropa, Birol menyebut negara seperti Prancis relatif lebih siap, tetapi tetap akan menghadapi harga energi yang lebih tinggi dan tekanan terhadap daya beli rumah tangga.
Ia menambahkan pemulihan stabilitas dapat memakan waktu bertahun-tahun. Kondisi normal, menurut Birol, mungkin baru bisa tercapai setidaknya dalam dua tahun, dipengaruhi kerusakan infrastruktur energi dan volatilitas pasar.
Di sisi lain, Birol menilai krisis ini dapat mempercepat transisi energi global. Energi terbarukan, tenaga nuklir, dan kendaraan listrik disebut berpotensi diuntungkan, meski beberapa negara mungkin sementara meningkatkan penggunaan batu bara.