Wakil Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Nyanyang Haris Pratamura mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat kebijakan pariwisata agar lebih adaptif menghadapi dinamika geopolitik global. Ajakan itu disampaikan saat ia memimpin rapat koordinasi lintas sektoral mengenai stabilitas pariwisata di Kantor Graha Kepri, Batam.
Nyanyang menilai sektor pariwisata sangat sensitif terhadap perubahan situasi dunia, terutama meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran hingga Amerika Serikat. Ketegangan tersebut, menurutnya, berpotensi mengganggu sistem transportasi internasional, termasuk mendorong kenaikan biaya operasional sejumlah maskapai besar.
“Kondisi ini memengaruhi tingkat mobilitas wisatawan global serta konektivitas destinasi wisata di Provinsi Kepri,” ujar Nyanyang di hadapan pelaku industri.
Ia menekankan Kepri memiliki posisi strategis karena pasar utama pariwisata daerah ini masih berasal dari negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Cina, dan India.
Nyanyang juga memaparkan kinerja pariwisata Kepri sepanjang 2025 yang dinilai menunjukkan pertumbuhan positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisatawan mancanegara pada 2025 mencapai 2,08 juta orang, sementara wisatawan nusantara tercatat 4,32 juta pergerakan orang.
Dengan capaian tersebut, pemerintah daerah mendorong pengembangan sport tourism dan marine tourism sebagai keunggulan utama wilayah kepulauan. “Kita harus terus mendorong pengembangan sektor sport tourism dan marine tourism sebagai keunggulan utama daerah kepulauan kita,” tegasnya.
Nyanyang menyatakan optimistis kolaborasi antarpihak dapat mendukung pencapaian target kunjungan wisata Kepri sebanyak 2,7 juta wisatawan pada 2026.