Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai berpotensi berdampak langsung pada pergerakan harga emas di pasar global. Ketidakpastian geopolitik tersebut memicu perhatian investor terhadap aset lindung nilai, terutama di tengah risiko gangguan pada jalur perdagangan energi utama dunia.
Salah satu titik krusial yang menjadi sorotan adalah Selat Hormuz. Penutupan selat ini dan pembatasan kapal komersial di kawasan tersebut dipandang dapat menghambat arus perdagangan global. Kondisi itu juga berpeluang mendorong lonjakan permintaan emas sebagai instrumen perlindungan terhadap inflasi yang dipicu kenaikan harga energi.
Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, menilai dampak gangguan di Selat Hormuz terhadap emas bukan sekadar pergerakan sementara, melainkan dapat menjadi pengubah tren yang bersifat fundamental. Menurutnya, karena Selat Hormuz merupakan “urat nadi” energi dunia, potensi penutupannya dapat memunculkan efek berantai yang menguntungkan bagi harga emas.
Nanang menambahkan, isu Selat Hormuz tidak hanya berkaitan dengan minyak dan gas, tetapi juga mencerminkan ancaman perang terbuka di Timur Tengah. Dalam situasi ketidakpastian ekstrem, investor institusi besar cenderung memindahkan dana dari aset berisiko seperti saham ke emas, sehingga dapat menciptakan permintaan besar baik pada emas fisik maupun instrumen derivatif.
Data Trading Economics pada Senin (2/3/2026) pukul 15.13 WIB menunjukkan harga emas spot mencapai US$ 5.410 per ons troi. Angka tersebut naik 2,50% secara harian dan menguat 9,50% dalam sebulan terakhir.
Setelah menembus level US$ 5.400 per ons troi, Nanang menyebut target teknis berikutnya berdasarkan ekstensi Fibonacci berada di kisaran US$ 5.650–US$ 5.800. Ia menilai prospek jangka pendek emas masih cenderung bullish, terutama selama belum ada gencatan senjata atau jaminan keamanan navigasi di Selat Hormuz yang dapat meredakan kekhawatiran pasar.
Menurut Nanang, tren penguatan emas juga berpotensi bertahan jika krisis berkembang menjadi tekanan ekonomi global. Dalam skenario resesi, bank sentral seperti The Fed dapat terdorong untuk menghentikan kenaikan suku bunga atau bahkan menurunkannya guna menopang perekonomian, yang pada gilirannya dapat mendukung aset safe haven.
Selain faktor geopolitik dan kebijakan moneter, ia menyinggung 2026 sebagai periode transisi politik di sejumlah negara. Ketidakstabilan domestik yang beriringan dengan krisis eksternal dinilai dapat memperpanjang daya tarik emas.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Nanang memproyeksikan harga emas pada semester I 2026 berpeluang mencetak rekor tertinggi baru. Ia memperkirakan harga dapat bergerak dari rekor US$ 5.597 menuju US$ 5.650, bahkan mencapai US$ 5.750 per ons troi dalam enam bulan pertama tahun ini. Untuk proyeksi lebih panjang, ia memperkirakan tren 2026 masih bullish dengan target di rentang US$ 5.000–US$ 6.000 per ons.

