BERITA TERKINI
Ketegangan Geopolitik Awal 2026 Dinilai Berisiko Tekan APBN lewat Harga Energi dan Rupiah

Ketegangan Geopolitik Awal 2026 Dinilai Berisiko Tekan APBN lewat Harga Energi dan Rupiah

Ketegangan geopolitik global yang meningkat pada awal 2026 dinilai berpotensi menekan ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tekanan tersebut dapat muncul melalui lonjakan harga energi, pelemahan nilai tukar Rupiah, serta meningkatnya volatilitas pasar keuangan.

Risiko ini mencuat seiring manuver Amerika Serikat di sejumlah kawasan strategis dan instabilitas politik yang kian dalam di Iran, salah satu produsen minyak dunia. Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Andry Asmoro menilai, meski keterkaitan dagang langsung Indonesia dengan wilayah konflik relatif terbatas, dampak rambatan tetap perlu diwaspadai.

Menurut Asmoro, langkah Amerika Serikat yang menekan Kolombia, Meksiko, dan Kuba, serta meningkatnya atensi terhadap Greenland, menambah ketidakpastian global. Ia menyebut ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland mencerminkan persaingan atas wilayah yang kaya mineral kritis dan bernilai strategis dari sisi militer. Dinamika tersebut berpotensi memicu friksi dengan negara-negara berkepentingan, termasuk Denmark, China, dan Rusia, yang pada akhirnya dapat memperburuk sentimen pasar global di tengah ketidakpastian arah kebijakan ekonomi dunia.

Dari Timur Tengah, kondisi Iran disebut menjadi sumber risiko tambahan. Asmoro menyoroti inflasi Iran yang menembus 39%, depresiasi tajam mata uang Rial, serta tekanan sanksi internasional yang menggerus daya beli dan memicu demonstrasi massal. Ia menilai instabilitas domestik Iran berisiko mengganggu pasokan energi global. Bagi Indonesia yang berstatus net oil importer, gangguan pasokan tersebut berpotensi berdampak langsung terhadap beban fiskal.

Harga minyak Brent tercatat menguat ke kisaran US$63,6 per barel pada awal pekan ini. Perhitungan Bank Mandiri menunjukkan setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel dapat menambah defisit fiskal Indonesia hingga Rp6,8 miliar. Asmoro menegaskan tekanan akan semakin terasa apabila harga minyak bergerak konsisten di atas asumsi APBN sebesar US$70 per barel.

Ia juga mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak yang bertahan di atas asumsi APBN dapat memicu tekanan inflasi domestik. Meski begitu, dari sisi perdagangan internasional, dampak langsung konflik Iran terhadap Indonesia dinilai masih terbatas. Porsi ekspor Indonesia ke Iran tercatat kurang dari 1% dari total ekspor nasional, sementara impor berada di bawah 0,1%. Aliran investasi langsung dari Iran juga relatif kecil, yakni US$2,1 juta sepanjang sembilan bulan pertama 2025.

Kendati dampak perdagangan dinilai minim, Asmoro menekankan jalur transmisi risiko tercepat justru berasal dari pasar keuangan. Meningkatnya persepsi risiko global dapat mendorong investor mengalihkan portofolio ke aset aman. Kondisi itu berpotensi memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga menekan Rupiah dan meningkatkan risiko pembiayaan APBN di tengah kebutuhan fiskal yang masih tinggi.