BERITA TERKINI
Ketegangan Geopolitik Buka Peluang Harga Emas Dalam Negeri Tembus Rp 2,6 Juta per Gram

Ketegangan Geopolitik Buka Peluang Harga Emas Dalam Negeri Tembus Rp 2,6 Juta per Gram

Harga emas batangan di dalam negeri berpeluang naik hingga mendekati Rp 2,6 juta per gram pada pekan depan, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global dan ketidakpastian politik internasional. Proyeksi tersebut disampaikan Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi yang menilai dinamika global belakangan ini mendorong pergerakan emas sebagai aset aman.

Ibrahim menyebut salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar adalah operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan militer AS atas perintah Presiden AS Donald Trump. Menurutnya, perkembangan tersebut ikut memicu kekhawatiran investor dan memperkuat permintaan terhadap emas.

Ia memperkirakan, jika harga emas dunia menguat pada perdagangan Senin (5/1/2026) ke level 4.426 dolar AS per troy ounce, maka harga logam mulia di dalam negeri bisa mencapai sekitar Rp 2.518.000 per gram dan berpotensi berlanjut menguat sepanjang pekan. Ibrahim menambahkan, apabila dalam sepekan harga emas dunia naik ke level 4.505 dolar AS per troy ounce, maka harga logam mulia di dalam negeri diproyeksikan berada di kisaran Rp 2.610.000 per gram.

Sebagai pembanding, pada perdagangan Jumat (2/1/2026) harga emas dunia ditutup di level 4.332 dolar AS per troy ounce. Sementara itu, harga logam mulia Antam pada Sabtu (3/1/2026) tercatat di kisaran Rp 2.488.000 per gram.

Meski peluang penguatan terbuka, Ibrahim menilai koreksi harga tetap mungkin terjadi. Jika pada perdagangan Senin emas dunia turun ke level 4.258 dolar AS per troy ounce, ia memperkirakan harga logam mulia di dalam negeri menjadi sekitar Rp 2.458.000 per gram. Apabila pelemahan berlanjut sepanjang pekan dan emas dunia bergerak ke level 4.196 dolar AS per troy ounce, maka harga logam mulia diperkirakan turun ke sekitar Rp 2.400.000 per gram.

Ibrahim menjelaskan fluktuasi harga emas dipengaruhi dua faktor utama, yakni dinamika politik di AS dan kondisi geopolitik. Ia menyoroti eskalasi konflik Rusia-Ukraina, termasuk serangan drone Ukraina ke wilayah Rusia yang memicu balasan besar-besaran dan memperburuk situasi di Eropa Timur.

Selain itu, ia menyinggung situasi di Iran yang turut memperkeruh sentimen pasar. Pelemahan mata uang Iran terhadap dolar AS disebut memicu demonstrasi di sejumlah kota yang berujung bentrokan dengan aparat keamanan dan menimbulkan kecaman internasional. Ibrahim juga menilai ketegangan meningkat setelah AS menyatakan siap ikut campur dalam urusan Iran di tengah krisis ekonomi dan pelemahan mata uang yang signifikan.

Di kawasan Amerika Latin, Ibrahim menilai operasi militer AS di Venezuela dan penangkapan Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, memicu kecaman dari sejumlah negara dan berpotensi menambah gejolak politik. Menurutnya, rangkaian ketegangan tersebut meningkatkan kekhawatiran investor global sehingga mendorong aliran dana ke aset safe haven seperti emas.

Ibrahim menambahkan, lonjakan harga emas dunia juga berpotensi diikuti pelemahan rupiah, yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga logam mulia per gram di dalam negeri. Dengan volatilitas yang masih tinggi, arah pergerakan harga emas ke depan dinilai tetap dua arah: berpeluang melanjutkan penguatan, tetapi juga rentan terkoreksi jika tensi global mereda atau sentimen pasar berubah cepat.