Ketegangan geopolitik yang kembali meningkat di Timur Tengah mengguncang pasar energi global, terutama gas alam cair (LNG). Konflik yang melibatkan Iran dan sekutunya, berhadapan dengan Amerika Serikat (AS) serta Israel, memicu kekhawatiran akan potensi gangguan pada jalur perdagangan energi utama dunia, khususnya Selat Hormuz.
Selat Hormuz dipandang krusial bagi perdagangan LNG karena sekitar seperlima ekspor LNG dunia melewati jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab tersebut. Analis memperingatkan bahwa hambatan pengiriman di rute ini dapat mendorong lonjakan harga LNG di pasar Asia dan Eropa, dua kawasan yang sangat bergantung pada pasokan LNG global.
Bank investasi Goldman Sachs memperkirakan, gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz selama satu bulan dapat mendorong kenaikan harga LNG di Asia dan Eropa hingga sekitar 130%. Dalam memo yang dikutip pada Senin (2/3/2026), analis Goldman Sachs menilai harga LNG di kedua kawasan itu belum sepenuhnya mencerminkan premi risiko akibat krisis Iran. Dalam skenario gangguan satu bulan, harga LNG spot Asia diproyeksikan dapat mencapai sekitar 25 dolar AS per juta British thermal unit (MMBtu).
Goldman Sachs juga memperingatkan bahwa dampak akan lebih besar jika gangguan berlangsung lebih lama. Jika terhambat lebih dari dua bulan, harga gas di Eropa diperkirakan berpotensi melampaui 100 euro per megawatt hour.
Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur energi terpenting di dunia, sebagai rute utama pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk seperti Qatar, Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab ke pasar global. Dalam konteks LNG, peran selat ini dinilai sangat vital karena sebagian besar ekspor LNG Qatar—salah satu produsen terbesar dunia—harus melewati jalur tersebut.
Eskalasi konflik turut meningkatkan risiko operasional pelayaran di kawasan itu. Ketegangan disebut menghambat lalu lintas tanker energi di Selat Hormuz, dengan laporan bahwa sejumlah kapal menghentikan perjalanan atau mengalihkan rute karena ancaman keamanan yang meningkat. Konflik ini disebut bermula pada akhir Februari 2026 setelah serangan militer AS dan Israel terhadap Iran memicu aksi balasan dari Teheran, sehingga perusahaan pelayaran dan operator energi meningkatkan kewaspadaan.
Selain LNG, potensi gangguan di Selat Hormuz juga memengaruhi perdagangan minyak global, mengingat jalur ini menyalurkan hampir seperlima konsumsi minyak dunia setiap hari. Karena itu, gangguan di kawasan tersebut kerap memicu reaksi cepat di pasar energi global, mulai dari lonjakan harga hingga perubahan arus perdagangan.
Para analis menilai situasi ini berisiko memunculkan gangguan terbesar pada pasar gas global sejak krisis energi yang dipicu invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Pasar gas internasional dinilai masih rapuh setelah perubahan besar pola perdagangan energi, terutama ketika pasokan gas Rusia ke Eropa turun drastis dan negara-negara Eropa meningkatkan impor LNG untuk menggantikan pasokan tersebut.
Perubahan itu membuat pasar LNG semakin kompetitif. Negara-negara di Asia dan Eropa kini kerap bersaing mendapatkan kargo LNG yang sama di pasar spot internasional. Dalam kondisi pasokan yang ketat, gangguan dari Timur Tengah dinilai dapat memperburuk keseimbangan pasar dan mendorong harga naik lebih cepat, mengingat pasar gas global relatif lebih sempit dan sensitif dibanding minyak ketika risiko geopolitik meningkat.
Terganggunya pasokan LNG dari Timur Tengah juga berpotensi memperuncing persaingan antara Asia dan Eropa. Asia merupakan pasar LNG terbesar di dunia, dengan China, Jepang, dan Korea Selatan sebagai pembeli utama. Sementara itu, Eropa semakin bergantung pada LNG setelah mengurangi ketergantungan pada gas pipa dari Rusia. Ketika pasokan global terbatas, kedua kawasan harus berebut kargo yang tersedia di pasar spot, yang dapat mendorong kenaikan harga karena pembeli bersedia membayar lebih untuk mengamankan pasokan.
Dominasi Qatar sebagai eksportir utama menjadi salah satu faktor yang membuat pasar LNG sangat sensitif terhadap konflik di Timur Tengah. Seluruh ekspor LNG Qatar harus melewati Selat Hormuz, sehingga setiap gangguan di jalur tersebut berpotensi langsung mengurangi pasokan LNG global dalam waktu singkat.
Lonjakan harga LNG dapat berdampak luas terhadap perekonomian karena gas alam merupakan sumber energi penting bagi pembangkit listrik dan industri. Kenaikan harga gas yang tajam dapat meningkatkan biaya energi rumah tangga dan industri, serta berpotensi mendorong inflasi melalui kenaikan biaya produksi dan transportasi. Goldman Sachs juga memperingatkan bahwa gangguan pasokan yang berkepanjangan dapat memicu penurunan permintaan gas secara global.
Di sisi lain, Goldman Sachs menilai pasar gas Amerika Serikat relatif lebih terlindungi dibanding Asia dan Eropa. Hal ini dikaitkan dengan posisi AS sebagai eksportir LNG besar dengan kapasitas produksi domestik yang besar. Namun, sebagian besar fasilitas pencairan gas di AS disebut sudah beroperasi mendekati kapasitas maksimum, sehingga kemampuan meningkatkan ekspor dalam jangka pendek dinilai terbatas. Dengan kondisi tersebut, lonjakan harga LNG di Asia dan Eropa diperkirakan lebih besar dibandingkan di AS.
Para analis menilai perkembangan konflik dalam beberapa minggu ke depan akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah harga LNG global. Jika ketegangan mereda dan jalur pelayaran kembali normal, lonjakan harga berpotensi bersifat sementara. Namun, apabila konflik meluas dan mengganggu pengiriman energi lebih lama, pasar LNG global diperkirakan menghadapi volatilitas yang lebih panjang.
Situasi ini menegaskan pentingnya stabilitas geopolitik bagi pasar energi dunia. Ketergantungan terhadap jalur perdagangan energi tertentu seperti Selat Hormuz membuat pasar rentan terhadap konflik regional, sementara perubahan kecil pada pasokan dapat memicu pergerakan harga yang cepat dan signifikan.

