BERITA TERKINI
Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Inflasi dan Guncang Pasar Global

Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Inflasi dan Guncang Pasar Global

Ketegangan di Timur Tengah menambah daftar kekhawatiran yang sudah membayangi ekonomi global, mulai dari tingginya tingkat utang, isu independensi Federal Reserve AS (The Fed), hingga lonjakan harga energi yang berisiko memicu inflasi kembali di negara-negara ekonomi utama. Situasi ini dinilai dapat menghambat rencana penurunan suku bunga bank sentral dan mengguncang kepercayaan pelaku usaha.

Capital Economics memperkirakan, harga minyak di level 100 dolar AS per barel berpotensi meningkatkan inflasi global sekitar 0,6 hingga 0,7 persen. Kenaikan harga minyak juga dipandang dapat menekan daya beli dan aktivitas bisnis. Ekonom Amerika, James Knightley, menyebut lonjakan tajam harga minyak global dapat menciptakan kesulitan bagi konsumen dan bisnis di Amerika Serikat.

Dari sisi pertumbuhan, Ajay Rajadhyaksha, kepala riset suku bunga dan produk sekuritisasi di Barclays, memperingatkan bahwa kinerja ekonomi AS cenderung bergerak berlawanan arah dengan harga minyak. Ia menilai, jika harga minyak naik hingga 120 dolar AS per barel dan bertahan di level tersebut, ekonomi AS maupun ekonomi dunia dapat mengalami guncangan yang signifikan.

Meski demikian, sebagian analis masih relatif optimistis dengan menyoroti ketahanan ekonomi global selama setahun terakhir. Kepala ekonom Oxford Economics, Innes McFee, menyatakan bahwa terlepas dari rangkaian peristiwa geopolitik belakangan ini, pertumbuhan ekonomi dan perdagangan global tetap sangat kuat.

Di pasar keuangan, ketegangan militer antara AS, Israel, dan Iran turut membebani sentimen investor. Pasar saham berfluktuasi, sementara Bitcoin disebut kehilangan momentum. Tekanan dari kenaikan harga energi tercermin cepat pada pergerakan indeks saham di berbagai kawasan.

Di Asia, indeks utama seperti Nikkei 225 Jepang dan Hang Seng Hong Kong melemah, mencerminkan sikap investor yang menghindari risiko. Di Eropa, indeks STOXX 600 turun hampir 2 persen, sedangkan indeks berjangka S&P 500 AS turun 1,5 persen.

Arus modal juga tercatat keluar dari saham-saham yang sensitif terhadap prospek pertumbuhan. Saham bank-bank Eropa turun 3,6 persen karena kekhawatiran konflik berkepanjangan dapat memperlambat pemulihan ekonomi. Sektor penerbangan, yang sangat sensitif terhadap biaya bahan bakar, turun hingga 5 persen seiring lonjakan harga minyak dan pembatalan lebih dari separuh penerbangan ke Timur Tengah. Saham teknologi di Eropa dan Asia ikut melemah saat investor melepas aset berisiko.

Di tengah pelemahan luas tersebut, sektor energi dan pertahanan menjadi pengecualian. Indeks energi Eropa naik 4 persen ke rekor tertinggi baru, dengan saham BP dan Shell menguat hampir 6 persen karena ekspektasi harga minyak tinggi yang berkelanjutan. Saham sektor pertahanan naik tipis 1,3 persen, seiring spekulasi pasar mengenai potensi peningkatan belanja militer di tengah eskalasi ketegangan.

Di pasar kripto, Bitcoin dinilai bereaksi lebih hati-hati dibanding saham. Karena diperdagangkan 24 jam sehari, pergerakan harga disebut langsung turun setelah AS memulai kampanye serangan udara terhadap Iran pada akhir pekan. Setelah penurunan awal, Bitcoin sempat pulih tipis dan berfluktuasi di sekitar 66.000 dolar AS pada pagi hari 2 Maret waktu AS, naik kurang dari 1 persen dari level sebelumnya, namun masih jauh di bawah puncaknya sekitar 126.000 dolar AS pada Oktober.

Chief Financial Officer BTC Markets, Charlie Sherry, mengatakan bahwa sejak ketegangan dengan Iran meningkat, aset kripto cenderung “memberi jalan” kepada aset safe-haven tradisional. Menurutnya, pada periode ketegangan geopolitik, modal lebih sering mengalir ke aset berwujud seperti emas, dibanding aset yang berisiko dan sangat fluktuatif.