JAKARTA — Ketua Umum DPP Fakar Indonesia, Aka Cholik Darlin, mendorong Indonesia untuk tetap konsisten menjunjung nilai-nilai Pancasila dalam merespons eskalasi konflik global yang dinilainya semakin kompleks serta berdampak luas terhadap stabilitas dunia dan kemanusiaan.
Dalam pernyataan tertulis, Senin (2/3/2026), Aka Cholik menilai dinamika geopolitik global saat ini ditandai meningkatnya ketegangan antarnegara, persaingan kepentingan strategis, serta konflik bersenjata yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar dunia. Menurut dia, situasi tersebut tidak hanya memicu instabilitas kawasan, tetapi juga menimbulkan penderitaan berkepanjangan, terutama bagi masyarakat sipil.
Ia menyoroti apa yang disebutnya sebagai paradoks peradaban modern. Di satu sisi, dunia mengalami kemajuan pesat dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan kecerdasan buatan. Namun di sisi lain, kemajuan itu kerap digunakan untuk memperkuat dominasi, memperluas pengaruh geopolitik, dan mempertajam konflik bersenjata.
“Dunia hari ini menghadapi tantangan serius. Kemajuan teknologi dan sumber daya manusia yang luar biasa tidak selalu diiringi dengan kedewasaan moral dan komitmen pada nilai kemanusiaan,” ujar Aka Cholik.
Ia menambahkan, ketegangan geopolitik global tidak dapat dilepaskan dari perebutan pengaruh politik, ekonomi, dan keamanan, termasuk persaingan atas sumber daya strategis, jalur perdagangan internasional, serta pengaruh ideologis. Dalam konteks itu, konflik kerap menjadi instrumen kekuasaan, sementara nilai-nilai kemanusiaan justru terpinggirkan.
Aka Cholik menegaskan Indonesia memiliki posisi yang ia sebut unik dan strategis dalam percaturan global. Sebagai negara besar dengan sejarah perjuangan melawan penjajahan, Indonesia dinilainya memiliki legitimasi moral untuk menyuarakan keadilan, perdamaian, dan penghormatan terhadap hak-hak bangsa lain.
“Pancasila memberikan fondasi etik yang kuat bagi Indonesia untuk bersikap. Nilai ketuhanan, kemanusiaan yang adil dan beradab, serta keadilan sosial adalah prinsip universal yang sangat relevan di tengah krisis global,” katanya.
Dalam konteks religius moderat, ia menyampaikan bahwa seluruh agama mengajarkan penghormatan terhadap kehidupan manusia. Ia menilai perang dan kekerasan yang menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar merupakan kegagalan kolektif dunia dalam menjaga amanah kemanusiaan.
“Setiap nyawa manusia adalah amanah Tuhan. Ketika kekerasan menjadi pilihan utama dalam menyelesaikan konflik, maka yang dikorbankan bukan hanya manusia, tetapi juga nilai moral dan spiritual peradaban,” ujarnya.
Ia juga menekankan politik luar negeri Indonesia perlu tetap berpijak pada prinsip bebas dan aktif, tidak terjebak dalam blok-blok kekuatan global, serta konsisten mendorong penyelesaian konflik melalui dialog dan diplomasi. Menurutnya, pendekatan ini kian penting di tengah meningkatnya polarisasi global dan melemahnya kepercayaan antarnegara.
Selain itu, Aka Cholik menyoroti peran komunitas internasional dan lembaga multilateral seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menurutnya perlu diperkuat kembali sebagai ruang dialog dan penyelesaian konflik secara damai. Ia menilai tatanan dunia yang adil tidak dapat dibangun melalui kekuatan senjata semata, melainkan melalui kesepakatan, kepercayaan, dan penghormatan terhadap hukum internasional.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa sikap Indonesia dalam hubungan internasional memiliki landasan konstitusional sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Ia merujuk Alinea Pertama yang menegaskan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
“Amanat konstitusi tersebut adalah kompas moral bangsa dalam bersikap di tingkat global. Indonesia tidak boleh abai terhadap penderitaan bangsa-bangsa yang terdampak konflik dan penindasan,” tegasnya.
Menurut Aka Cholik, di tengah dunia yang sarat ketegangan, Indonesia diharapkan tetap hadir sebagai kekuatan penyeimbang yang mengedepankan dialog, empati, dan kemanusiaan. Konsistensi menjunjung Pancasila, kata dia, bukan hanya penting bagi kepentingan nasional, tetapi juga menjadi kontribusi Indonesia bagi terciptanya perdamaian dunia.
“Indonesia harus terus menjadi suara nurani global, berdiri di pihak kemanusiaan dan keadilan, serta menghadirkan harapan di tengah krisis peradaban dunia,” pungkasnya.

